Kecerdasan artifisial (AI) terus berkembang pesat dan dinilai menjadi salah satu pendorong utama transformasi digital di berbagai negara. Teknologi ini mengubah cara pemerintah dan industri beroperasi, mulai dari meningkatkan efisiensi proses, mengelola data berskala besar, hingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat berbasis data.
Berdasarkan analisis PwC, AI diperkirakan dapat berkontribusi hingga 15,7 triliun dolar AS terhadap ekonomi global pada 2030. Dari jumlah tersebut, 6,6 triliun dolar AS berasal dari peningkatan produktivitas dan efisiensi, sementara 9,1 triliun dolar AS diproyeksikan berasal dari dampak pengganda (multiplier effect) konsumsi.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, sebagian pertumbuhan ekonomi ke depan akan dipengaruhi oleh AI. Ia menyebut sekitar 15–20 persen dari total nilai tersebut diperkirakan akan “di-generate” oleh AI, sehingga teknologi ini berpotensi menjadi infrastruktur penting dalam pertumbuhan ekonomi. Pernyataan itu disampaikan Edwin dalam acara IDE Katadata Future Forum di Jakarta, Rabu (15/4).
Di tingkat nasional, ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai 360 miliar dolar AS pada 2030, atau sekitar Rp 5.500 triliun hingga Rp 5.800 triliun. Proyeksi ini disebut akan didorong oleh adopsi AI, digitalisasi sektor keuangan, serta pertumbuhan e-commerce.
Edwin juga mengutip survei Universitas Stanford yang menyatakan 80 persen masyarakat Indonesia memiliki pandangan optimistis terhadap AI. Ia menambahkan, sebagian besar orang di Jakarta disebut sudah menggunakan AI setidaknya dua hingga tiga kali dalam sepekan, meski sebatas untuk keperluan ringan seperti mencoba layanan berbasis AI.
Menurut Edwin, Indonesia telah memiliki fondasi strategis dalam tata kelola AI melalui Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020–2045 dan sejumlah regulasi terkait. Ia menyebut fondasi tersebut mencakup pengembangan talenta, pembangunan infrastruktur, kebijakan tata kelola, riset dan inovasi, serta pembiayaan.
Dalam pengembangan ekosistem AI, Edwin menekankan empat pilar penting, yakni kerja sama antara regulator dan pemerintah, pengembangan inovasi, serta peningkatan kapabilitas melalui pengembangan talenta.