BERITA TERKINI
Riset Media Januari–Mei 2024: Ini 10 Fintech P2P Lending Paling Populer dan Komunikatif

Riset Media Januari–Mei 2024: Ini 10 Fintech P2P Lending Paling Populer dan Komunikatif

Jakarta—The Finance, anggota Infobank Media Group, bekerja sama dengan Binokular Media Monitoring merilis daftar Top 10 Fintech Terpopuler dan Paling Komunikatif. Pemeringkatan ini mengukur performa komunikasi merek perusahaan financial technology peer-to-peer (P2P) lending—yang juga dikenal sebagai pinjaman online (pinjol)—berdasarkan pemberitaan di media massa.

Media monitoring dilakukan pada periode Januari hingga Mei 2024. Dalam riset tersebut, kinerja komunikasi yang diukur mencakup perusahaan P2P lending yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Mei 2024, dengan cakupan pengukuran atas pemberitaan yang menyebut nama brand atau perusahaan dari 101 P2P lending resmi.

Hasil riset menunjukkan sentimen pemberitaan terhadap P2P lending resmi dinilai tidak terlalu buruk apabila merujuk pada artikel yang secara langsung menyebut nama penyelenggara resmi. Media juga disebut aktif menginformasikan perusahaan P2P lending mana saja yang legal, sehingga publik diharapkan tidak terjebak pinjol ilegal.

Selain isu legalitas, sorotan media juga banyak mengarah pada ada atau tidaknya debt collector di lapangan. Dalam sejumlah pemberitaan, media turut memuat rekomendasi P2P lending resmi yang bisa diakses masyarakat, termasuk informasi mengenai legalitas, prosedur, hingga besaran bunga.

Meski demikian, riset ini mencatat adanya perusahaan yang terseret sentimen negatif. Investree disebut menjadi salah satu yang paling banyak mendapatkan pemberitaan negatif terkait dugaan pelanggaran ketentuan dan layanan konsumen. Sejumlah P2P lending di bidang pembiayaan pendidikan juga ikut terdampak publikasi negatif yang berkaitan dengan isu kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di sejumlah universitas, di antaranya Danacita, DanaBagus, Cicil, dan Edufund.

Metodologi pengukuran

Pengukuran performa P2P lending di media dilakukan menggunakan metode “Media Analysis Index”. Prosesnya diawali dengan pengumpulan data berita dari media konvensional—cetak, online, TV/radio—baik nasional maupun daerah, selama Januari–Mei 2024. Pengumpulan dilakukan menggunakan mesin big data Newstensity milik Binokular Media Monitoring.

Setiap artikel kemudian dianalisis menggunakan sejumlah parameter, antara lain share of voice (tingkat eksposur berdasarkan total berita), news sentiment (positif, netral, negatif), key message (posisi pesan kunci dalam struktur berita), internal key opinion leader/KOL (ada tidaknya kutipan narasumber internal), brand mention (kedalaman ulasan, apakah dibahas langsung atau sekilas), media tier (tingkatan media 1, 2, atau 3), serta parameter lainnya yang disebutkan dalam metodologi.

Artikel yang dianalisis selanjutnya diberi skor berdasarkan parameter tersebut, lalu skor dibobotkan. Hasil akhir indeks berada pada skala 1–100, dengan kategori 0–49,99 (kurang komunikatif), 50,00–69,99 (cukup komunikatif), dan 70,00–100 (sangat komunikatif).

Berdasarkan penghitungan indeks, sebanyak 10 perusahaan masuk kategori sangat komunikatif. Sementara itu, 46 perusahaan berada pada kategori cukup komunikatif dan 44 perusahaan masuk kategori kurang komunikatif. Skala indeks ini disebut dapat menjadi bahan awal bagi perusahaan P2P lending untuk meningkatkan performa komunikasi publiknya di media massa.