Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Selasa, 20 Januari 2026, dan semakin mendekati level Rp17.000 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dalam negeri serta ketidakpastian pasar keuangan global.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah dibuka pada posisi Rp16.985 per dolar AS, melemah 30 poin atau 0,18% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) tercatat turun 0,34% ke level 99,05, menunjukkan pelemahan mata uang AS terhadap sejumlah mata uang utama.
Kinerja Mata Uang Regional
Di kawasan Asia, beberapa mata uang utama justru menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Yuan China menguat tipis sebesar 0,03%, ringgit Malaysia naik 0,05%, serta yen Jepang bertambah 0,04%. Namun, sebagian mata uang lain mengalami pelemahan, antara lain dolar Hong Kong turun 0,01%, dolar Singapura melemah 0,06%, won Korea Selatan turun 0,35%, peso Filipina melemah 0,01%, rupee India turun 0,05%, dan baht Thailand melemah 0,05%.
Faktor Internal dan Eksternal Tekan Rupiah
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor internal. Salah satunya adalah kekhawatiran pasar terkait kesehatan fiskal Indonesia. Data terbaru menunjukkan defisit anggaran negara pada tahun lalu hampir mencapai batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sementara penerimaan pajak belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Di sisi eksternal, meskipun indeks dolar AS melemah, ketidakpastian pasar global meningkat akibat ancaman penerapan tarif oleh Presiden AS Donald Trump sebesar 10% hingga 25% terhadap negara-negara Eropa. Kondisi ini memicu kehati-hatian investor terhadap mata uang negara berkembang atau emerging markets.
Sentimen Pertumbuhan Ekonomi China
Data pertumbuhan ekonomi China yang tercatat 5,0% memberikan sentimen yang beragam. Walaupun angka ini sesuai dengan target pemerintah China, lemahnya konsumsi domestik menjadi perhatian karena dapat membebani prospek ekspor bagi negara-negara mitra dagang di Asia, termasuk Indonesia.
Respons Bank Indonesia dan Proyeksi Rupiah
Dalam menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui mekanisme Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) maupun Non-Deliverable Forward (NDF). BI juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan moneter yang dijadwalkan pekan ini.
Selain itu, rencana pemerintah untuk memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor dinilai dapat menjadi penyangga bagi rupiah di tengah volatilitas pasar.
Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, berada pada kisaran Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS sepanjang hari ini.