Pada 7 April 2025, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah menjadi perhatian publik setelah menyentuh Rp17.261 dan disebut sebagai posisi terendah. Pada pukul 14.35, rupiah juga sempat berada di level Rp16.883 per dolar AS. Pergerakan ini dinilai mencerminkan kondisi ekonomi yang sedang menghadapi tekanan.
Nilai tukar mata uang kerap dipandang sebagai salah satu indikator makroekonomi. Perubahannya berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk dinamika inflasi atau deflasi, serta persepsi terhadap ketahanan ekonomi suatu negara.
Depresiasi rupiah disebut dapat dipengaruhi sejumlah faktor, seperti tingkat pengangguran, besaran utang luar negeri, neraca perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi. Nilai tukar rupiah juga digambarkan sensitif terhadap fluktuasi ekonomi serta situasi krisis keuangan, sehingga guncangan pada faktor-faktor tersebut dapat memperlemah kurs.
Sensitivitas rupiah turut dikaitkan dengan kondisi ekonomi global, terutama pergerakan dolar AS. Ketika dolar menguat, rupiah cenderung melemah, dan sebaliknya. Selain itu, kebijakan Bank Indonesia—termasuk penetapan suku bunga dan intervensi pasar—disebut berpengaruh terhadap stabilitas rupiah. Kenaikan suku bunga dapat menarik investasi asing, namun juga dapat meningkatkan biaya pinjaman dalam mata uang asing.
Dari sisi pelaku pasar, sentimen investor menjadi faktor yang turut menentukan. Ketidakpastian politik atau ekonomi dapat mendorong investor menarik dana, yang kemudian menekan nilai rupiah. Ketika keyakinan investor menurun, mereka cenderung melepas aset berdenominasi rupiah.
Ketergantungan pada utang luar negeri juga disebut memperbesar tekanan. Banyak perusahaan Indonesia memiliki kewajiban dalam dolar AS. Saat rupiah melemah, biaya pembayaran utang meningkat dan dapat memicu tekanan lanjutan pada nilai tukar.
Selain itu, inflasi dan pertumbuhan ekonomi turut berkontribusi. Inflasi yang tinggi dapat mengurangi daya beli rupiah, sementara pertumbuhan ekonomi yang lambat dapat menurunkan kepercayaan investor.
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih berfluktuasi dengan kecenderungan melemah dalam jangka panjang. Jika tekanan berlanjut, industri manufaktur disebut berpotensi tertekan dan berdampak lebih luas pada masyarakat. Bank Indonesia dilaporkan telah melakukan intervensi di pasar valuta asing dan obligasi, namun rupiah dinilai masih berisiko tertekan lebih dalam apabila sentimen negatif berlanjut dan investor meragukan keberlanjutan kebijakan ekonomi pemerintah.
Menurut Rizal, fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan potensi tekanan yang cukup tinggi dalam jangka panjang, salah satunya terkait defisit transaksi yang diperkirakan melebar pada 2025. Meski cadangan devisa dinilai masih memadai, ketidakpastian global dan fluktuasi harga komoditas disebut dapat menggerus ketahanan ekonomi nasional.
Cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2025 tercatat sebesar 154,5 miliar dolar AS. Angka tersebut turun 1,6 miliar dolar AS dibandingkan posisi Januari 2025, yang antara lain dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Secara keseluruhan, penguatan fundamental ekonomi dan peningkatan kepercayaan investor disebut menjadi kunci untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah strategis dari pemerintah dan Bank Indonesia dinilai diperlukan agar dampak negatif terhadap masyarakat dapat diminimalkan.

