BERITA TERKINI
Rupiah Tertekan di Tengah Gelombang Demonstrasi, Pasar Kripto Dinilai Relatif Stabil

Rupiah Tertekan di Tengah Gelombang Demonstrasi, Pasar Kripto Dinilai Relatif Stabil

Jakarta, 2 September 2025 — Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menyentuh level terendah sejak awal Agustus, yakni Rp16.400 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini terjadi di tengah gejolak politik yang dipicu demonstrasi besar-besaran, yang menyuarakan kekecewaan publik terhadap kenaikan biaya hidup, tingginya gaji anggota parlemen, serta isu kekerasan aparat.

Aksi unjuk rasa yang berlangsung beberapa hari terakhir menuntut pemerintah mengambil langkah untuk mengatasi kenaikan biaya hidup dan tingginya tingkat pengangguran. Ketegangan meningkat seiring beredarnya isu tunjangan anggota parlemen yang disebut mencapai 10 kali lipat upah minimum bulanan.

Situasi tersebut dinilai kontras dengan kondisi kelompok berpenghasilan rendah yang terdampak kenaikan pajak, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan inflasi. Ketidakpuasan publik dilaporkan semakin meluas setelah seorang pengemudi ojek online disebut tewas dalam insiden kekerasan aparat pada demonstrasi Kamis, 28 Agustus 2025, yang kemudian memicu gelombang protes di berbagai kota.

Di sejumlah lokasi, aksi protes dilaporkan semakin intensif, termasuk perusakan yang menargetkan kediaman anggota parlemen, penjarahan properti, serta pembakaran gedung pemerintahan. Menanggapi situasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto pada Minggu (31/8/2025) menyatakan parlemen akan mendengarkan dan menindaklanjuti kekhawatiran masyarakat, serta berjanji membatasi tunjangan anggota parlemen.

Dalam sepekan terakhir, rupiah tercatat terkoreksi 0,74% atau 121 poin dibanding posisi Rp16.335 per dolar AS pada akhir pekan sebelumnya, berdasarkan data yang dikutip dari DNFinancials.com. Tekanan pada rupiah disebut turut dipengaruhi faktor psikologis pasar terhadap perkembangan situasi politik di Indonesia.

Sementara itu, industri aset kripto dalam laporan tersebut disebut tidak terdampak langsung oleh gejolak politik domestik. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin tercatat naik 1,25%, yang dipandang mencerminkan karakter aset kripto yang terdesentralisasi dan tidak terikat pada lembaga atau institusi tertentu.

Dalam kondisi volatilitas pasar, fluktuasi harga kerap dimanfaatkan sebagian pelaku pasar sebagai peluang diversifikasi investasi. Stablecoin yang dipatok pada mata uang utama seperti dolar AS, misalnya USDT dan USDC, disebut tidak terpengaruh secara langsung oleh situasi di Indonesia karena karakter terdesentralisasi yang melekat pada aset tersebut.

Laporan itu juga menyebut sebagian investor pemula memilih mengamankan nilai aset pada instrumen yang dinilai cenderung stabil seperti Bitcoin dan USDT. Selain itu, fitur staking yang tersedia di platform crypto exchange resmi dan diawasi OJK, seperti Bittime, disebut dapat menjadi salah satu strategi jangka panjang yang kerap dipilih investor.

Di luar dinamika pasar, publik berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk meredakan situasi serta merespons tuntutan masyarakat, demi menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Di saat yang sama, masyarakat diingatkan bahwa investasi aset kripto mengandung risiko tinggi, termasuk fluktuasi harga, potensi kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pengguna.