BERITA TERKINI
Saham Konglomerat Menahan Pelemahan IHSG, Koreksi Menyempit Jelang Akhir Sesi I

Saham Konglomerat Menahan Pelemahan IHSG, Koreksi Menyempit Jelang Akhir Sesi I

Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memangkas koreksi menjelang akhir sesi I perdagangan Senin (30/3/2026), setelah sempat tertekan cukup dalam pada awal perdagangan.

Pada pagi hari, IHSG sempat anjlok nyaris 2% dan menyentuh level 6.945,5. Namun hingga pukul 11.10 WIB, koreksi menyempit menjadi 0,44% dan indeks kembali memantul ke level 7.000-an.

Pergerakan saham masih didominasi pelemahan. Tercatat 478 saham berada di zona merah, 220 saham menguat, dan 260 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp6,61 triliun dengan volume 11,92 miliar saham yang ditransaksikan dalam 881.200 kali transaksi.

Dari sisi kontributor penekan indeks, BBCA menjadi beban terbesar setelah terkoreksi nyaris 4% dan menyumbang penurunan sebesar 23,69 poin indeks. Tekanan berikutnya datang dari BBRI dan BYAN yang masing-masing menyumbang penurunan 6,29 poin dan 5,58 poin indeks.

Di sisi lain, sejumlah saham konglomerat membantu menahan penurunan IHSG. DCII yang naik 4,76% menyumbang kenaikan 9,48 poin indeks. Penguatan juga ditopang DSSA, TLKM, BRMS, dan ASII yang masing-masing menyumbang 6,46 poin, 6,31 poin, 5,98 poin, dan 3,07 poin indeks.

Tekanan di pasar domestik terjadi di tengah pelemahan bursa Asia-Pasifik yang mayoritas bergerak turun. Indeks Nikkei Jepang melemah 3,52% dan Kospi Korea Selatan turun 2,99%. Hang Seng Hong Kong turun 0,93%, sementara bursa Taiwan melemah 1,53%.

Dalam kondisi saat ini, ruang penguatan IHSG dinilai masih terbatas karena belum adanya katalis positif yang kuat dari sisi global. Pasar menanti sinyal yang lebih jelas, seperti gencatan senjata di Timur Tengah, dibukanya kembali jalur energi utama seperti Selat Hormuz, serta penurunan harga minyak kembali di bawah US$80 per barel.

Selama faktor-faktor tersebut belum terjadi, IHSG berpotensi sulit mencatat rebound signifikan karena tekanan eksternal masih mendominasi. Risiko geopolitik juga disebut memasuki fase lebih kompleks dengan munculnya risiko double chokepoint.

Jika sebelumnya perhatian pasar terfokus pada Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20% minyak dunia—kini perhatian bergeser ke Bab el-Mandeb setelah kelompok Houthi di Yaman mulai terlibat dalam konflik. Jalur ini merupakan penghubung utama Asia–Eropa melalui Terusan Suez dan mencakup sekitar 6–12% arus perdagangan global. Jika kedua jalur terganggu bersamaan, sekitar 25–30% pasokan minyak global berpotensi terdampak, meningkatkan risiko inflasi global dan memperbesar kemungkinan resesi. Dalam skenario ini, harga minyak berpotensi bertahan tinggi dalam waktu lebih lama.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut menjadi tekanan tambahan karena harga minyak yang tinggi berada di atas fiscal comfort zone yang idealnya di bawah US$80 per barel. Dengan asumsi APBN menggunakan harga minyak US$70 per barel, setiap kenaikan US$10 disebut dapat meningkatkan defisit sekitar Rp51,8 triliun.

Jika harga minyak mencapai US$100 per barel, tambahan subsidi energi diperkirakan mencapai Rp236 triliun, sedangkan tambahan penerimaan sekitar Rp81 triliun. Kondisi tersebut berpotensi menambah defisit hingga Rp155 triliun, yang pada akhirnya turut membebani sentimen pasar saham domestik.

Selain itu, dinamika global juga dipengaruhi kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang bertugas menjaga inflasi dan lapangan kerja, namun dinilai secara tidak langsung turut berperan menjaga stabilitas sistem keuangan yang bergantung pada likuiditas.

Di tengah situasi tersebut, militer Israel menyatakan sedang menyerang berbagai target di ibu kota Iran, Teheran. Pemerintah Iran menyebut infrastruktur energi mengalami kerusakan, namun media Iran melaporkan listrik telah pulih di sebagian besar wilayah Teheran dan kota terdekat, Karaj.

Sebuah universitas di kota Isfahan, Iran bagian tengah, disebut menjadi sasaran serangan untuk kedua kalinya pada akhir pekan ini. Di sisi lain, Israel menyatakan kebakaran di sebuah lokasi industri di bagian selatan negara itu—yang disebabkan serangan Iran—telah berhasil dikendalikan, beberapa jam setelah sebelumnya menyebut adanya “insiden bahan berbahaya” di area tersebut.

Foto yang telah diverifikasi juga menunjukkan sebuah jet militer Amerika Serikat mengalami kerusakan parah di sebuah pangkalan udara di Saudi Arabia. Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran mengatakan pasukan mereka “menunggu” kehadiran pasukan darat Amerika Serikat untuk “menghujani mereka dengan api”, setelah pengumuman AS bahwa sekitar 3.500 tentara berada di kawasan tersebut bersama kapal perang USS Tripoli.