BERITA TERKINI
SBY: Konflik Berkepanjangan di Timur Tengah Berisiko Picu Krisis Ekonomi Global

SBY: Konflik Berkepanjangan di Timur Tengah Berisiko Picu Krisis Ekonomi Global

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memperingatkan konflik berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi memicu krisis ekonomi global apabila tidak segera diselesaikan melalui jalur diplomasi.

SBY menyampaikan harapannya agar perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, dapat menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang. “Mudah-mudahan yang sekarang sedang berlangsung di Islamabad antara delegasi Amerika dan Iran bisa menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang,” ujar SBY dalam acara Supermentor di Jakarta, Selasa, 14 April 2026.

Menurut SBY, konflik yang terus berlanjut tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berisiko mengguncang perekonomian global. “Kalau perang masih begini di Timur Tengah, semua negara kena. Ekonomi akan berantakan di seluruh dunia,” katanya.

Ia menekankan bahwa penyelesaian konflik tidak memiliki solusi instan dan memerlukan kompromi dari pihak-pihak yang terlibat. “Tidak ada resep ajaib untuk sebuah kesepakatan. Perlu ada take and give, kompromi, dan kesediaan masing-masing pihak untuk mundur satu langkah,” ujarnya.

SBY juga mengingatkan bahwa sekalipun kesepakatan damai tercapai, kondisi global tidak serta-merta kembali normal. “Kalau perang berakhir hari ini, tidak berarti kita langsung kembali normal. Perlu waktu berbulan-bulan untuk menstabilkan ekonomi global,” ucapnya.

Selain itu, SBY menilai risiko akan membesar jika konflik tidak segera dihentikan, termasuk potensi terulangnya krisis ekonomi global seperti pada 2008.

Pernyataan SBY disampaikan di tengah perundingan damai antara AS dan Iran di Islamabad yang berakhir tanpa kesepakatan formal, meski gencatan senjata sementara masih berlangsung secara rapuh. Konflik antara Iran dan aliansi AS–Israel yang pecah sejak akhir Februari lalu juga berdampak luas, termasuk terganggunya jalur energi global di Selat Hormuz yang memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.