Sejumlah saham yang dikaitkan dengan proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) milik Danantara mencuri perhatian pasar. Sentimen ini menguat seiring rencana Danantara mengumumkan hasil pemenang lelang pada Februari 2026.
Dalam proses lelang tersebut, tercatat ada 24 peserta dan seluruhnya merupakan perusahaan asing. Mayoritas berasal dari China sebanyak 20 perusahaan, disusul tiga perusahaan Jepang, serta satu perusahaan asal Prancis.
Beberapa emiten di Bursa Efek Indonesia disebut memiliki keterkaitan dengan tender proyek waste to energy (WtE) tersebut, antara lain PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) dan PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA).
SOFA, melalui anak usahanya PT Parivarta Energi Nusantara, menandatangani perjanjian pembentukan konsorsium dengan perusahaan China Hunan Construction Engineering Group Co. serta perusahaan Malaysia Kintan Usahasama Sdn. Bhd. Konsorsium itu sejak awal dibentuk untuk mengikuti tender proyek WtE Danantara, sementara Hunan Construction Engineering Group Co. tercatat sebagai salah satu peserta lelang.
Sementara itu, OASA juga membidik partisipasi dalam proyek PSEL untuk wilayah Bogor Raya dan Denpasar Raya. Untuk itu, OASA bergabung dalam konsorsium bersama Grandblue Environment Co. Ltd.
Selain kedua emiten tersebut, pasar juga mengaitkan proyek ini dengan PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC).
Pergerakan harga saham sejumlah emiten terkait terpantau menguat sejak awal tahun, terutama menjelang periode pengumuman. SOFA, misalnya, naik 25,27% secara year to date menjadi Rp 466 per Kamis (22/1). OASA melonjak 80,30% secara year to date menjadi Rp 476. Adapun TOBA meningkat 10,81% sepanjang 2026 berjalan ke posisi Rp 830 hingga Kamis (22/1).
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai penguatan saham BIPI, IMPC, OASA, SOFA, MHKI, dan TOBA sejak awal tahun lebih banyak didorong oleh sentimen proyek WtE. Namun dari sisi fundamental, ia menyoroti MHKI yang mencatat pertumbuhan kinerja positif, dengan valuasi yang dinilai relatif masih murah.
Berdasarkan kinerja per 30 September, MHKI membukukan pendapatan Rp 148,80 miliar, melonjak 23,83% secara tahunan (YoY) dari Rp 120,16 miliar. Dari sisi laba bersih tahun berjalan, MHKI mencatat Rp 27,12 miliar hingga kuartal III-2025, meningkat 20,35% YoY dari Rp 22,53 miliar.
Sukarno menambahkan prospek pertumbuhan kinerja MHKI pada tahun ini berpeluang terbantu oleh pembangunan pabrik di Lamongan yang disebut dapat menjadi katalis. Ia juga menyarankan investor konservatif untuk berfokus pada emiten berfundamental kuat, sedangkan saham yang bergerak karena sentimen dinilai lebih cocok untuk strategi trading jangka pendek dengan manajemen risiko yang ketat.

