Pergerakan indeks saham dan mata uang di sebagian besar pasar emerging market Asia cenderung melemah menjelang penutupan perdagangan kemarin. Lonjakan harga minyak global memicu meningkatnya sikap risk-off di kalangan pelaku pasar, sehingga reli yang sempat berlangsung selama dua hari sebelumnya terhenti.
Meski begitu, sejumlah bursa regional mampu memangkas tekanan kerugian setelah investor mencermati berbagai sinyal kebijakan dan mengkaji dampak lanjutan dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Di pasar valuta, mata uang kawasan masih berada di bawah bayang-bayang penguatan dolar Amerika Serikat. Kenaikan harga minyak turut memperbesar kekhawatiran inflasi global dan mendorong arus dana menuju aset yang dianggap lebih aman.
Hingga mendekati pukul 15.00 WIB, peso Filipina melemah sekitar 0,5 persen dan menjadi mata uang dengan penurunan terdalam di antara negara berkembang Asia. Ringgit Malaysia terkoreksi 0,4 persen, meski sepanjang tahun ini masih tercatat sebagai mata uang dengan kinerja paling solid di kawasan.
Rupee India tertekan sekitar 0,3 persen dan kembali mendekati titik terendahnya. Spekulasi adanya potensi intervensi bank sentral membantu menahan pelemahan lebih lanjut setelah mata uang tersebut sempat menyentuh rekor terendah baru pada awal sesi perdagangan.
Sementara itu, rupiah Indonesia terkoreksi sekitar 0,2 persen. Won Korea Selatan melemah 0,3 persen, dolar Singapura turun tipis 0,1 persen, dan dolar Taiwan merosot 0,4 persen. Baht Thailand menjadi pengecualian dengan penguatan marginal sekitar 0,1 persen.
Harga minyak dunia sendiri melonjak hingga sekitar 9 persen dan kembali menembus level psikologis USD100 per barel. Lonjakan ini dipicu laporan mengenai serangan lanjutan terhadap sejumlah kapal di perairan Teluk.
Kenaikan tajam tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa biaya energi yang semakin mahal dapat mempercepat laju inflasi global. Kondisi ini dinilai berpotensi membuat bank sentral utama dunia tetap berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Dalam situasi itu, Badan Energi Internasional disebut tengah menyiapkan langkah pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar, mencapai sekitar 400 juta barel, untuk meredam gejolak pasar.
Perhatian pelaku pasar juga tertuju pada keamanan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan bahan bakar dunia. Ketidakpastian mengenai kapan jalur tersebut kembali aman dilalui kapal menjadi salah satu sumber kegelisahan utama di pasar global.
Ketegangan kawasan kian terasa setelah para menteri luar negeri negara-negara ASEAN menyerukan pertemuan khusus guna membahas krisis yang berkembang di Timur Tengah.
Di pasar saham, sejumlah indeks berhasil memangkas kerugian awal. Indeks teknologi Korea Selatan, KOSPI, misalnya, mengurangi penurunannya menjadi sekitar 0,5 persen setelah Presiden Lee Jae Myung meminta agar pemerintah segera menyiapkan anggaran tambahan. Sebaliknya, saham Taiwan menjadi yang paling tertekan di kawasan dengan penurunan mencapai 1,6 persen.
Kepala Strategi Ekuitas di Bank of Singapore, Low Pei Han, menyampaikan bahwa pihaknya tetap optimistis terhadap saham Asia di luar Jepang dalam perspektif jangka panjang, didukung sejumlah faktor pertumbuhan struktural yang dinilai masih kuat. Namun, Bank of Singapore untuk sementara mengambil sikap netral terhadap kawasan Asia seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menambah ketidakpastian pasar.
Menurutnya, gangguan terhadap jalur energi di Selat Hormuz berpotensi menjadi risiko pasar terbesar saat ini. Dampaknya tidak hanya pada kenaikan harga energi, tetapi juga pada biaya logistik dan pengiriman global. Kenaikan harga energi dapat menguntungkan sektor energi dan material, tetapi industri yang sensitif terhadap kenaikan biaya input berpotensi mengalami tekanan.
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru memperpanjang penguatan hingga sekitar 0,4 persen setelah parlemen menyetujui penunjukan lima pejabat senior di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Indeks saham SET Thailand juga berbalik dari pelemahan awal dan ditutup naik sekitar 0,3 persen.
Sementara itu, sejumlah indeks lain di kawasan masih berada di zona merah. Indeks STI Singapura, PSEI Filipina, KLCE Malaysia, NSEI India, serta SSEC Shanghai tercatat turun di kisaran 0,1 persen hingga 0,7 persen.

