Tekanan di pasar saham global meningkat seiring eskalasi ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Situasi tersebut turut menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang terkoreksi pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Pada perdagangan Jumat, IHSG melemah 0,94% ke level 7.097,06. Secara mingguan, indeks domestik juga tercatat turun 0,13%.
Sentimen negatif tidak hanya terjadi di dalam negeri. Bursa saham Amerika Serikat juga melemah tajam, dengan Dow Jones turun 1,73%, S&P 500 terkoreksi 1,67%, dan Nasdaq merosot 2,15%.
Tim riset Sinarmas Sekuritas menilai pelemahan indeks global dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Lonjakan harga energi disebut menjadi katalis yang mendorong aksi jual di berbagai sektor, terutama saham teknologi yang dinilai sensitif terhadap perubahan suku bunga dan inflasi.
Di sisi lain, saham sektor energi justru menunjukkan penguatan seiring kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi ini memunculkan perbedaan kinerja antar sektor yang semakin lebar di tengah ketidakpastian pasar.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati sejumlah indikator makroekonomi. Jumlah uang beredar (M2) pada Februari 2026 tercatat Rp 10.089 triliun dengan pertumbuhan 8,7% secara tahunan (yoy). Selain itu, rencana kebijakan 2026 terkait kenaikan harga patokan nikel diproyeksikan dapat berdampak positif terhadap penerimaan negara dari sektor mineral dan batubara.
Dalam kondisi volatilitas yang tinggi, Sinarmas Sekuritas memetakan sejumlah emiten yang dinilai menarik untuk dicermati dengan strategi speculative buy bagi investor dengan toleransi risiko tertentu. Untuk perdagangan 30 Maret 2026, saham yang disoroti meliputi PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).
ENRG menjadi salah satu pilihan di tengah kenaikan harga komoditas energi, dengan pendekatan akumulasi disertai pembatasan risiko yang ketat. Sementara ADMR dinilai relevan di tengah perhatian pasar terhadap sektor mineral, terutama terkait rencana penyesuaian harga patokan. Adapun TAPG dari sektor perkebunan dinilai memiliki potensi pergerakan jangka pendek, dengan catatan pelaku pasar tetap disiplin pada rencana perdagangan.
Sinarmas Sekuritas juga menekankan pentingnya manajemen risiko di tengah pasar yang fluktuatif. Sejumlah langkah yang disebut dapat diterapkan antara lain menetapkan batas risiko sebelum membeli saham, menggunakan stop loss secara konsisten, melakukan diversifikasi aset agar tidak terpaku pada satu sektor, memantau perkembangan berita geopolitik karena dampaknya dapat cepat merambat ke pasar, serta menyesuaikan target keuntungan dengan profil risiko untuk menghindari keputusan emosional.
Informasi, data, dan rekomendasi yang disampaikan bersifat informatif dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Kondisi pasar yang dirujuk merupakan per tanggal 30 Maret 2026 dan dapat berubah mengikuti dinamika ekonomi global maupun domestik.