BERITA TERKINI
SKK Migas Soroti Ketahanan Industri Hulu Migas dan Tantangan 22 Tahun ke Depan

SKK Migas Soroti Ketahanan Industri Hulu Migas dan Tantangan 22 Tahun ke Depan

Jakarta—Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Luky Yusgiantoro mengingatkan kembali pembentukan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS) pada 16 Juli 2002, setelah pengesahan Undang-Undang Migas Nomor 22 Tahun 2001. BPMIGAS dibentuk sebagai lembaga yang mengawasi kegiatan hulu migas, dengan tujuan agar industri hulu dapat memberikan penerimaan negara yang optimal bagi kemakmuran rakyat.

Dalam pidatonya pada acara Peringatan 22 Tahun Mengelola Hulu Migas di Jakarta, Selasa (16/7/2024), Luky menyebut pembentukan BPMIGAS saat itu membawa harapan baru, meski proses membangun organisasi baru diwarnai tantangan, termasuk persoalan anggaran. Ia menilai industri migas tetap menunjukkan ketahanan dan komitmen, dengan dukungan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) serta industri pendukung, sehingga pengelolaan kegiatan hulu migas dapat berjalan.

Luky juga menyinggung perubahan kelembagaan satu dekade kemudian, ketika BPMIGAS dibubarkan. Menurutnya, peristiwa tersebut berpotensi memukul mental industri hulu migas. Namun, ia mengatakan SKK Migas tetap dapat bekerja secara profesional berkat dukungan K3S dan industri pendukung, dengan menekankan pentingnya ketahanan (resilience) dan komitmen bersama dalam menjalankan kegiatan hulu migas.

Ia menegaskan peran hulu migas masih dibutuhkan, tidak hanya sebagai sumber penerimaan negara, tetapi juga sebagai lokomotif penggerak perekonomian. Luky menyampaikan sektor ini turut mendorong penciptaan lapangan kerja serta menggerakkan ekonomi nasional dan daerah untuk menopang kapasitas nasional.

Menurut Luky, industri migas juga memberikan efek berganda bagi perekonomian di tingkat lokal maupun internasional. Ia menyebut peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dan kontribusi lainnya dari tahun ke tahun sebagai salah satu indikator, seraya menekankan capaian tersebut merupakan hasil dukungan dan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah hingga para pekerja di lapangan.

Di akhir pidato, Luky mengajukan pertanyaan kepada hadirin mengenai kondisi hulu migas Indonesia 22 tahun mendatang. Ia mengaitkan proyeksi itu dengan target Indonesia Emas dan peringatan 100 tahun kemerdekaan pada 2045. Luky memperkirakan perjalanan industri tidak akan selalu mulus dan akan menghadapi berbagai tantangan serta pergantian estafet kepemimpinan. Karena itu, ia menekankan perlunya menjaga profesionalisme, integritas, kerja sama, ketahanan, dan komitmen, serta meminta dukungan berkelanjutan dari K3S dan industri pendukung.