Perkembangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian utama pasar dan lembaga internasional, seiring meningkatnya ketidakpastian terhadap arah ekonomi global. Dalam laporan World Economic Outlook terbaru, Dana Moneter Internasional (IMF) menilai prospek ekonomi dunia kian sulit diprediksi karena situasi di kawasan tersebut.
IMF memperkirakan, apabila konflik berlanjut selama beberapa pekan lagi sebelum pasar kembali stabil pada pertengahan tahun, pertumbuhan ekonomi global tahun ini berpotensi melambat menjadi 3,1%. Angka itu lebih rendah dibanding proyeksi 3,3% pada laporan sebelumnya. Meski dampak hingga 2026 diperkirakan tidak signifikan, IMF mengingatkan bahwa pada skenario terburuk pertumbuhan dapat turun hingga 1,3 poin persentase, mendekati risiko resesi.
Di Asia, sejumlah ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan ekonomi Tiongkok berpeluang pulih pada kuartal pertama 2026. Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok diproyeksikan tumbuh 4,8% secara tahunan. Jika tercapai, laju itu akan melampaui pertumbuhan 4,5% pada kuartal keempat 2025, yang disebut sebagai level terendah sejak ekonomi negara itu dibuka kembali setelah pandemi pada akhir 2022. Proyeksi ini dinilai dapat memberi waktu lebih longgar bagi pembuat kebijakan untuk menilai dampak konflik Timur Tengah sebelum mempertimbangkan langkah stimulus.
Sementara itu di Amerika Serikat, pemerintah mulai menyiapkan pengembalian dana terkait tarif yang dinyatakan ilegal oleh Mahkamah Agung AS pada Februari. Dalam pengajuan ke pengadilan pada 14 April, Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) menyatakan telah menyelesaikan fase pertama sistem pengembalian dana CAPE. Pengembalian sebesar US$166 miliar dijadwalkan mulai berjalan pada 20 April, dengan mekanisme yang mengonsolidasikan tarif sehingga importir menerima satu pembayaran, termasuk bunga jika berlaku, alih-alih memproses pengembalian untuk setiap pengiriman individual.
Dari sisi teknologi, Korea Selatan mencatat penguatan posisi dalam pengembangan kecerdasan buatan. Laporan AI Index 2026 dari Universitas Stanford menempatkan Korea Selatan pada peringkat ketiga dunia dalam jumlah model AI terkemuka yang dipublikasikan pada 2025, di bawah Amerika Serikat dan Tiongkok, dengan total lima model unggulan. Negara itu juga disebut memimpin dunia dalam jumlah paten AI per kapita untuk tahun kedua berturut-turut. Adopsi AI di sektor manufaktur dan industri dilaporkan semakin cepat, dengan peningkatan penerapan yang menonjol pada paruh kedua 2025.
Di pasar komoditas, konflik di Timur Tengah turut memengaruhi arus perdagangan aluminium. Ekspor aluminium dari China diproyeksikan meningkat dalam beberapa bulan mendatang karena pelanggan mencari sumber alternatif untuk mengimbangi gangguan di wilayah Teluk Persia. Selisih harga antara aluminium internasional dan China dilaporkan berada pada level tertinggi sejak 2022, menciptakan peluang bagi pabrik peleburan aluminium China. Kondisi ini terjadi ketika persediaan aluminium domestik China baru saja mencapai level tertinggi dalam enam tahun terakhir.