Jakarta—Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan proyeksi asumsi ekonomi makro 2025 dan menyebut hampir seluruh indikator berpotensi tidak mencapai target yang telah ditetapkan dalam APBN 2025. Proyeksi tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI pada Selasa (1/7/2025).
Dalam pemaparannya, Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2025 berada di kisaran 4,8% hingga 5,0%. Angka ini lebih rendah dibanding target pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2025 sebesar 5,2%.
Data Kementerian Keuangan menunjukkan, dalam periode 2014–2024, hampir semua asumsi makro kerap meleset dari target. Tiga indikator yang paling sering menyimpang adalah pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, dan lifting minyak.
Selama 10 tahun terakhir, pemerintah hanya sekali memenuhi target pertumbuhan ekonomi, yakni pada 2022. Pada tahun-tahun lainnya, target pertumbuhan tidak tercapai.
Selain pertumbuhan ekonomi, realisasi nilai tukar rupiah juga dinilai kerap lebih lemah dibanding target. Kondisi tersebut terjadi pada 2014, 2015, 2018, 2020, serta 2022 hingga 2024, yang mencerminkan kerentanan nilai tukar terhadap guncangan global.
Untuk 2025, nilai tukar rupiah diperkirakan masih berpotensi lebih lemah dari target. Sri Mulyani menyebut tekanan datang dari situasi global, termasuk perang dagang dan konflik Israel versus Iran yang turut memengaruhi pergerakan rupiah.

