BERITA TERKINI
Survei Jakpat: E-Wallet Masih Jadi Layanan Fintech Paling Banyak Dipakai di Indonesia pada 2025

Survei Jakpat: E-Wallet Masih Jadi Layanan Fintech Paling Banyak Dipakai di Indonesia pada 2025

Dompet digital (e-wallet) masih menjadi layanan teknologi finansial (fintech) yang paling dominan digunakan masyarakat Indonesia. Survei Indonesia Fintech Trends 2025 yang dirilis Jakpat pada Semester II 2025 mencatat, 93% responden mengaku menggunakan e-wallet dalam enam bulan terakhir.

Temuan tersebut menunjukkan e-wallet tetap menjadi tulang punggung transaksi digital untuk berbagai kebutuhan, mulai dari belanja, pembayaran tagihan, hingga transfer dana. Tingginya penggunaan ini juga menegaskan peran kemudahan penggunaan serta integrasi e-wallet dengan beragam layanan dalam mendorong adopsi di masyarakat.

Di bawah e-wallet, layanan paylater menempati posisi kedua dengan tingkat penggunaan 31%. Skema pembayaran tunda ini mencerminkan minat masyarakat terhadap fleksibilitas pembayaran, terutama untuk kebutuhan konsumsi jangka pendek tanpa harus membayar penuh di awal.

Sementara itu, penggunaan pinjaman online tercatat lebih rendah. Hanya 11% responden menyatakan memanfaatkan layanan tersebut dalam periode enam bulan terakhir, mengindikasikan bahwa meski akses kredit digital semakin terbuka, tidak semua orang menjadikannya pilihan utama dalam pengelolaan keuangan.

Adapun layanan fintech lain masih digunakan oleh sebagian kecil responden. Crowdfunding dan peer-to-peer (P2P) lending masing-masing digunakan oleh 3% responden, sedangkan e-aggregator—platform pembanding produk keuangan—menjadi yang paling sedikit dimanfaatkan dengan tingkat penggunaan 2%.

Survei ini melibatkan 2.089 responden melalui aplikasi mobile Jakpat pada 14–21 November 2025, dengan margin of error di bawah 5%. Secara umum, hasil survei menunjukkan penggunaan fintech di Indonesia masih terkonsentrasi pada layanan transaksi dasar seperti e-wallet, sementara layanan yang lebih kompleks—termasuk pembiayaan alternatif dan agregator produk keuangan—dinilai masih memiliki ruang untuk berkembang seiring peningkatan literasi keuangan digital.