BERITA TERKINI
Tarif AS–China Bergeser Jadi Rivalitas Strategis, Teknologi hingga Taiwan Jadi Sorotan

Tarif AS–China Bergeser Jadi Rivalitas Strategis, Teknologi hingga Taiwan Jadi Sorotan

Konflik dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir kian bergeser dari sekadar perselisihan neraca perdagangan dan tarif impor-ekspor. Ketegangan kini berkembang menjadi persaingan strategis yang lebih luas, mencakup isu teknologi, keamanan nasional, hingga pengaruh geopolitik di panggung global.

Perang dagang bermula ketika pemerintahan Presiden Donald Trump mengenakan tarif terhadap berbagai produk asal China, dengan alasan ketidakseimbangan perdagangan dan perlakuan yang dinilai tidak adil terhadap perusahaan asing di China. Namun seiring waktu, isu-isu non-ekonomi ikut mengemuka dan membuat konflik lebih kompleks serta berpotensi berlangsung panjang.

Lembaga riset BCA Research dari Kanada menilai dinamika tarif saat ini hanya terlihat sebagai “puncak gunung es” dari rivalitas struktural antara dua negara. Menurut penilaian tersebut, persaingan ini berpeluang berkembang ke bentuk konfrontasi lain, meski tidak harus berujung pada konflik militer terbuka.

Strategi AS: menekan China secara selektif

Dalam beberapa tahun terakhir, AS dinilai menerapkan pendekatan yang lebih selektif namun tegas terhadap China. Di satu sisi, tarif terhadap produk China tetap diberlakukan, tetapi AS cenderung menghindari pengenaan tarif terhadap negara lain. Pendekatan ini dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi global sambil memusatkan tekanan pada pihak yang dianggap sebagai pesaing strategis utama, yakni China.

Ada beberapa faktor yang disebut mendorong fokus AS tersebut. Pertama, persaingan dominasi teknologi yang berkaitan dengan keamanan nasional. AS memandang ambisi China di bidang kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan jaringan 5G sebagai tantangan terhadap keunggulan strategisnya. Kekhawatiran atas ketergantungan teknologi juga mendorong pembatasan terhadap perusahaan seperti Huawei dan TikTok.

Kedua, meningkatnya pengaruh China di kawasan Asia Pasifik, termasuk isu Laut China Selatan dan Taiwan, yang menimbulkan kekhawatiran di Washington. AS memperkuat kerja sama militer dan diplomatik dengan mitra strategis di kawasan sebagai bagian dari upaya penyeimbangan.

Ketiga, pertimbangan politik domestik. Sikap tegas terhadap China menjadi isu populer lintas partai di AS, sehingga pendekatan keras terhadap Beijing cenderung mendapatkan dukungan politik luas, terutama menjelang pemilu.

Respons China: tarif balasan hingga stimulus

China merespons tekanan AS melalui kombinasi kebijakan ekonomi dan strategi politik. Langkah yang ditempuh mencakup tarif balasan serta intervensi mata uang.

Pada awal April 2025, nilai tukar yuan melemah ke level terendah sejak 2007, baik di pasar offshore maupun onshore. Pelemahan ini dipandang tidak hanya mencerminkan tekanan eksternal, tetapi juga menjadi salah satu cara menjaga daya saing ekspor di tengah tarif AS.

Selain itu, China merancang stimulus fiskal yang diperkirakan mencapai 3–4% dari produk domestik bruto (PDB), atau sekitar 3 triliun yuan, untuk menstabilkan ekonomi domestik. Namun, sejumlah analis menilai bahwa jika stimulus tidak digandakan, China bisa saja menyiapkan langkah non-ekonomi, seperti peningkatan tekanan diplomatik terhadap Taiwan atau strategi militer hibrida.

Taiwan sebagai titik sensitif

Taiwan menjadi salah satu isu paling sensitif dalam rivalitas ini. Bagi China, Taiwan dipandang sebagai bagian wilayahnya dalam kerangka “one China”. Sementara bagi AS, Taiwan merupakan mitra strategis yang tidak resmi namun penting secara geopolitik.

Penjualan senjata AS ke Taiwan dan dukungan diplomatik yang terus berjalan dipersepsikan Beijing sebagai ukuran sejauh mana Washington menantang kepentingan intinya. Karena itu, jika negosiasi ekonomi menemui jalan buntu dan tekanan meningkat, risiko eskalasi di kawasan disebut dapat menjadi lebih nyata.

Ketegangan meningkat, tetapi perang terbuka bukan pilihan utama

Meski suhu politik memanas, konflik militer terbuka dinilai bukan opsi utama bagi kedua negara. AS dan China sama-sama menyadari besarnya dampak konfrontasi militer, tidak hanya bagi kepentingan mereka, tetapi juga terhadap stabilitas global.

Sejumlah analis memandang eskalasi saat ini lebih berupa tekanan simbolik dan taktis untuk memperkuat posisi tawar masing-masing. Dalam situasi seperti ini, diplomasi, saluran komunikasi terbuka, dan kejelasan kebijakan dinilai penting untuk mencegah kesalahpahaman yang bisa memicu krisis.

Dampak ke ekonomi global dan negara berkembang

Ketidakpastian akibat ketegangan AS–China berpotensi berlangsung jangka panjang dan menjadi faktor yang harus diperhitungkan investor serta pasar global. Dalam konteks tersebut, BCA Research menyarankan investor mempertimbangkan pergeseran ke aset aman seperti emas, obligasi pemerintah, dan saham defensif; menghindari risiko tinggi di wilayah yang terdampak langsung; serta mewaspadai reli pasar jangka pendek yang bisa menyesatkan di tengah ketegangan geopolitik.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, konflik AS–China dapat berdampak signifikan mengingat ketergantungan pada perdagangan global, investasi asing, dan stabilitas nilai tukar. Namun di saat yang sama, dinamika ini juga dapat membuka peluang bagi negara yang mampu mengambil posisi strategis, termasuk melalui diversifikasi mitra dagang, penguatan pasar domestik, dan peningkatan daya saing sektor manufaktur.

Menata ketahanan di tengah perubahan tatanan global

Secara keseluruhan, konflik AS–China mencerminkan perubahan yang lebih besar dalam tatanan global, ketika dua kekuatan besar bersaing memengaruhi norma dan arah masa depan. Di tengah risiko konfrontasi strategis, ruang stabilisasi melalui dialog dan diplomasi tetap terbuka.

Bagi Indonesia dan negara lain, tantangannya adalah merespons dinamika ini secara cermat dengan memperkuat fondasi ekonomi, menjaga stabilitas domestik, serta membangun hubungan luar negeri yang seimbang dan konstruktif.