BERITA TERKINI
Transparansi Informasi Dinilai Krusial untuk Perkuat Pasar Modal Indonesia

Transparansi Informasi Dinilai Krusial untuk Perkuat Pasar Modal Indonesia

Transparansi informasi masih dinilai menjadi tantangan dalam pengembangan pasar modal Indonesia. Keterbukaan informasi dipandang penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus meningkatkan daya saing bursa domestik.

Isu tersebut mengemuka dalam diskusi Road to Investor Relations Forum (IRF) 2026 yang digelar di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (10/3). Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menilai transparansi merupakan fondasi penting bagi perkembangan pasar modal.

“Komunikasi seperti ini penting untuk membangun transparansi di pasar modal,” ujar Misbakhun dalam keterangannya yang dikutip pada Jumat (13/3/2026).

Pejabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa pasar modal Indonesia saat ini berada dalam fase transformasi. Menurutnya, berbagai langkah pembenahan dilakukan agar bursa domestik dapat bersaing dengan pasar modal global.

Jeffrey menekankan, upaya tersebut perlu diiringi komunikasi yang terbuka kepada investor dan publik. Informasi terkait kebijakan maupun perkembangan pasar dinilai perlu disampaikan secara konsisten.

“Ini momentum penting untuk membuat pasar modal kita naik kelas. Karena itu berbagai langkah yang dilakukan perlu terus disampaikan ke publik,” kata Jeffrey.

Dari sisi regulator, Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Eddy Manindo Harahap menyebut pasar modal Indonesia memiliki potensi besar di kawasan Asia Tenggara. Namun, peningkatan kualitas tata kelola dan keterbukaan informasi tetap menjadi faktor penting bagi perkembangan pasar.

“Kita memang perlu lebih transparan agar pasar kita bisa berkembang lebih baik,” ujar Eddy.

Sementara itu, pengamat pasar modal Hans Kwee mengatakan arus informasi yang jelas dapat membantu investor dalam mengambil keputusan investasi. Ia juga menilai komunikasi yang baik dapat mengurangi kesalahpahaman antara regulator, emiten, dan pelaku pasar.

“Kalau komunikasi terjaga dengan baik, investor juga lebih mudah memahami kondisi pasar,” kata Hans.