Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Program Studi Pendidikan Akuntansi dan Psikologi menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) bertema penguatan ketahanan mental dan kepercayaan diri finansial bagi diaspora Indonesia di Jepang melalui integrasi pendidikan keuangan dan kesejahteraan emosional.
Program tersebut dilaksanakan dalam tiga pertemuan, terdiri atas dua sesi daring dan satu sesi luring, bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang. Puncak kegiatan luring digelar di Masjid Indonesia Tokyo pada Minggu (1/2) dan diikuti jamaah masjid yang berasal dari komunitas PCIM Jepang serta diaspora Indonesia di wilayah Tokyo dan sekitarnya.
Kegiatan ini dilatarbelakangi meningkatnya jumlah diaspora Indonesia di Jepang yang menghadapi tantangan biaya hidup tinggi, kompleksitas sistem keuangan, serta tekanan sosial untuk tetap mengirim remitansi ke tanah air. Meski sebagian memiliki pendapatan yang relatif baik, banyak yang belum memiliki perencanaan keuangan sistematis dan masih rentan terhadap utang konsumtif maupun stres finansial.
Dalam sambutannya, Miftah selaku Bendahara PCIM Jepang menekankan pentingnya literasi keuangan bagi pekerja migran dan diaspora Indonesia. Ia mengingatkan bahwa penghasilan tidak cukup tanpa pengelolaan yang bijak agar terhindar dari jerat utang dan tetap stabil secara emosi dalam mengatur keuangan.
Ketua Tim Pengabdi, Dhany Efita Sari, Ph.D., dosen Pendidikan Akuntansi UMS, menjelaskan bahwa pendekatan program tidak hanya berbasis teori keuangan, tetapi juga mengintegrasikan aspek psikologis dalam pengambilan keputusan ekonomi. Materi utama yang disampaikan adalah konsep mindful spending, yakni pendekatan pengelolaan keuangan yang menekankan kesadaran penuh sebelum melakukan pembelian.
Dalam sesi tersebut, peserta diajak menerapkan prinsip pause before purchase atau berhenti sejenak sebelum membeli, lalu mengevaluasi apakah pengeluaran merupakan kebutuhan atau sekadar keinginan, serta memastikan keputusan finansial selaras dengan nilai dan tujuan hidup jangka panjang.
Melalui permainan, simulasi, dan studi kasus literasi keuangan, peserta berlatih membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun rencana pengeluaran, serta merefleksikan hubungan antara emosi dan keputusan belanja. Pendekatan ini dinilai relevan di tengah gempuran promosi digital, diskon musiman, serta tren wisata dan “healing” yang populer di kalangan diaspora, yang berpotensi memicu pengeluaran impulsif dan berujung pada beban utang serta tekanan psikologis.
Dari sisi psikologis, Isnaya Arina Hidayati, M.Psi., dosen Psikologi UMS, mengulas aspek financial mental health. Ia memaparkan tips dan strategi praktis untuk mengelola kecemasan finansial, meningkatkan kepercayaan diri dalam pengelolaan uang, serta melatih teknik mindfulness sederhana guna menjaga keseimbangan emosi saat menghadapi tekanan ekonomi.
Menurut Isnaya, kesehatan mental dan literasi keuangan tidak dapat dipisahkan. Individu yang memiliki perencanaan keuangan yang baik cenderung lebih stabil secara emosional, lebih tenang menghadapi ketidakpastian, dan mampu mengambil keputusan secara rasional.
Rangkaian kegiatan diawali dengan koordinasi dan analisis kebutuhan, dilanjutkan survei awal serta pretest literasi finansial dan ketahanan mental, pelatihan Mindful Spending secara luring, pelatihan Financial Mental Health secara daring, hingga posttest dan refleksi bersama. Evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan pemahaman dan perubahan perilaku finansial peserta.
Melalui program ini, UMS berharap terbentuk komunitas diaspora Indonesia di Jepang yang tangguh secara finansial, stabil secara emosional, dan lebih percaya diri dalam mengelola pendapatan serta pengeluaran di lingkungan dengan biaya hidup tinggi. Program ini juga menjadi bentuk kontribusi internasional UMS dalam pengabdian masyarakat berbasis integrasi keilmuan akuntansi dan psikologi, sekaligus menunjukkan bahwa penguatan literasi keuangan tidak hanya menyangkut pengetahuan, tetapi juga pemberdayaan yang menyentuh dimensi mental, sosial, dan spiritual diaspora Indonesia di luar negeri.

