Sejarawan dan intelektual Vijay Prashad menegaskan bahwa semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 tidak seharusnya dipahami sebagai nostalgia sejarah, melainkan sebagai upaya menjawab persoalan yang masih dihadapi negara-negara Global South saat ini. “Ini bukan nostalgia. Ini tentang menyelesaikan masalah hari ini,” kata Vijay dalam keterangannya, dikutip Senin, 20 April 2026.
Menurut Vijay, inti utama KAA bukan berada pada isu keamanan, melainkan pada persoalan ekonomi dan kedaulatan atas sumber daya. Ia menyebut, sejak awal negara-negara Global South mempertanyakan mengapa kekayaan alam mereka terus mengalir ke luar negeri tanpa memberi manfaat maksimal bagi rakyat.
“Mengapa rakyat kita harus menggali kekayaan alam kita, lalu membiarkan kekayaan itu mengalir ke tempat lain? Mengapa kita tidak bisa mengolahnya sendiri, membangun industri kita, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat kita?” ujarnya.
Vijay menilai perdebatan tersebut masih berlangsung hingga kini, termasuk di Indonesia. Ia mencontohkan diskusi yang masih terjadi soal pengelolaan nikel. “Di Indonesia hari ini Anda masih berdebat soal apa yang harus dilakukan dengan nikel Anda. Setelah 71 tahun, ini masih perdebatan yang sama,” katanya.
Ia juga menilai kegagalan banyak negara berkembang membangun kemandirian ekonomi tidak terlepas dari tekanan global yang menghambat upaya pembentukan tatanan ekonomi internasional baru pasca-Bandung. “Ketika kita mencoba membangun agenda ekonomi sendiri, selalu ada intervensi. Lihat apa yang terjadi di Brasil, di Kongo, dan di Indonesia pada 1965,” ujarnya.
Bagi Vijay, pesan penting dari Bandung adalah bahwa negara-negara Global South bukan hanya memiliki hak untuk berbicara, tetapi juga hak untuk didengar dalam sistem internasional. “Tidak ada gunanya berbicara jika tidak didengar. Untuk didengar, kita membutuhkan kekuasaan,” katanya.
Dalam konteks itu, Vijay mengkritik struktur global seperti Dewan Keamanan PBB yang dinilainya belum merepresentasikan negara-negara berkembang. “Tidak ada anggota tetap dari Afrika. Tidak ada dari Amerika Latin. Padahal mereka bagian besar dari dunia,” ucapnya.
Vijay turut menekankan pentingnya kedaulatan ekonomi, termasuk penguasaan atas sumber daya alam dan teknologi. Ia mencontohkan kebijakan China yang mewajibkan transfer teknologi dan investasi ulang sebagai syarat masuknya investasi asing. “Mereka tidak hanya meminta investasi, tapi juga ilmu pengetahuan. Mereka memastikan keuntungan tidak keluar dari negara,” ujarnya.
Sebaliknya, ia menilai banyak negara berkembang justru membuka diri tanpa syarat. “Kita hanya bilang, silakan datang, ambil keuntungan, tanpa meminta transfer teknologi,” katanya.
Selain itu, Vijay mengkritik cara pandang pembangunan yang sempit dan hanya diukur dari pembangunan fisik. “Pembangunan bukan tentang mal atau bandara. Pembangunan adalah menghapus kemiskinan, memberi harapan, dan meningkatkan kehidupan rakyat,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Megawati Institute Hilmar Farid dalam pengantarnya menyatakan dunia saat ini berada dalam situasi krisis, tetapi diskusi perlu diarahkan pada harapan dan kemungkinan, bukan sekadar keputusasaan. “Kita ingin melihat dari sudut pandang yang berbeda, yaitu kemungkinan, harapan, dan perjuangan,” kata Hilmar.
Hilmar menekankan semangat Bandung perlu diterjemahkan dalam konteks kekinian, termasuk untuk menghadapi tantangan baru seperti krisis iklim. “Diskusi hari ini mencoba menjembatani inspirasi dari 1955 dengan realitas hari ini,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa seni memiliki peran penting dalam gerakan sosial dan politik. “Seni bukan sekadar hiburan. Seni adalah bagian dari gerakan. Seni adalah denyut nadi politik,” katanya.