BERITA TERKINI
WEF Davos 2026: DANA Tekankan Kepercayaan, Tata Kelola, dan Keberlanjutan dalam Ekonomi Digital

WEF Davos 2026: DANA Tekankan Kepercayaan, Tata Kelola, dan Keberlanjutan dalam Ekonomi Digital

JAKARTA — DANA memperluas perannya sebagai representasi industri teknologi finansial Indonesia di panggung global melalui keterlibatan dalam World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss. Pada pertemuan tahun ini, partisipasi DANA diperkuat dengan bergabungnya jajaran eksekutif ke dalam komunitas strategis WEF.

Chief Information Officer DANA, Darrick Rochili, resmi bergabung dalam Chief Strategy Officers Community. Sementara itu, Chief Technology Officer DANA, Norman Sasono, menjadi bagian dari Chief Digital & Technology Officers Community. Keterlibatan tersebut menempatkan DANA dalam percakapan lintas negara terkait tata kelola teknologi, inovasi digital yang bertanggung jawab, serta transformasi ekonomi berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam lanskap teknologi finansial global.

WEF Davos 2026 mengusung tema A Spirit of Dialogue, dengan fokus pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

CEO & Co-Founder DANA, Vince Iswara, menilai pertumbuhan yang berkelanjutan bertumpu pada kepercayaan dan dampak yang dirasakan masyarakat. Ia menyebut setiap inovasi teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), perlu diperkuat dengan prinsip keamanan, perlindungan pengguna, dan tata kelola yang kuat. Menurutnya, pembelajaran dari WEF Davos 2026 akan dibawa pulang untuk diterjemahkan menjadi aksi nyata bagi DANA dan keberlangsungan industri teknologi finansial di Indonesia.

Salah satu topik utama yang mengemuka dalam forum tersebut adalah keberlanjutan sebagai variabel dalam membangun kepercayaan. Chief Finance Officer DANA, Yattha Saputra, mengatakan dunia tengah menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan perusahaan dompet digital juga perlu mengambil peran. Ia menekankan bahwa pertumbuhan, tata kelola, dan keberlanjutan harus berjalan beriringan, sehingga sustainability tidak diposisikan sebagai sekadar kewajiban, melainkan dijadikan pilar operasional dan alat ukur kualitas pertumbuhan demi memastikan keberlanjutan bisnis maupun lingkungan.

Komitmen ini didokumentasikan dalam Sustainability Report 2024 yang diluncurkan DANA tahun lalu. Dalam laporan tersebut, DANA mencatat bahwa setiap transaksi DANA menghasilkan sekitar 0,14 gram CO₂e, atau sekitar 3% dari emisi satu email pada umumnya.

WEF Davos 2026 juga menyoroti pergeseran paradigma terhadap inklusi keuangan. Inklusi kini dipandang sebagai strategi ketahanan ekonomi dan bisnis yang krusial, bukan semata agenda sosial. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, akselerasi inklusi keuangan dinilai menjadi modal penting bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

DANA mencatat 43% penggunanya berasal dari kelompok unbanked dan 86% berasal dari kota tier 2–4. Data ini, menurut DANA, menunjukkan bahwa perluasan akses digital tidak hanya memperluas penetrasi layanan, tetapi juga memperkuat basis ekonomi formal di luar kota-kota pusat ekonomi.

Di sisi lain, inklusi yang berdampak juga dinilai perlu diikuti literasi dan penguatan kepercayaan. DANA mencatat Net Promoter Score (NPS) sebesar 84,44% sebagai indikator tingkat rekomendasi pengguna. Dari aspek sosial, program SisBerdaya dan DisBerdaya yang berfokus pada edukasi dan pendampingan disebut telah menjangkau lebih dari 9.000 UMKM perempuan dan penyandang disabilitas.

Pasca WEF 2026, DANA menyatakan akan melanjutkan komitmen untuk mendorong industri teknologi finansial yang inklusif di Indonesia, melalui perluasan adopsi layanan keuangan digital serta penguatan literasi keuangan lewat edukasi finansial yang lebih menyeluruh bagi masyarakat.