PT Akulaku Finance Indonesia menargetkan penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp 8,2 triliun pada tahun ini. Target tersebut naik 12% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan realisasi 2025.
Presiden Direktur Akulaku Finance Indonesia Perry Barman Slangor mengatakan target itu mencerminkan strategi pertumbuhan yang terukur dengan fokus pada keberlanjutan profitabilitas. Ia juga menegaskan komitmen perusahaan menjaga kualitas aset dengan menargetkan rasio non-performing financing (NPF) net maksimal 1,2% hingga 2026.
Untuk mengejar target penyaluran pembiayaan, perusahaan menyiapkan sejumlah langkah, termasuk mendorong porsi pembiayaan offline melalui ekspansi merchant ke berbagai wilayah di luar Pulau Jawa. Fokus ekspansi diarahkan ke kota-kota tier dua dan tiga yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan.
Di sisi kemitraan, Akulaku Finance berupaya memperdalam integrasi ekosistem digital dengan memperkuat kolaborasi yang sudah ada. Perusahaan juga mengoptimalkan kerja sama strategis dengan institusi perbankan untuk menekan biaya dana sekaligus memperkuat struktur permodalan.
Perry menambahkan, perusahaan akan memperdalam dukungan kepada pelaku usaha mikro melalui penyediaan solusi pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis. Menurut dia, langkah ini ditujukan untuk membantu kelancaran operasional serta menjaga arus kas usaha tetap sehat.
Dari sisi teknologi, Akulaku Finance meningkatkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan advanced analytics. Perry menyebut integrasi tersebut ditujukan untuk mempertajam akurasi credit scoring, memperkuat sistem deteksi fraud secara instan, serta meningkatkan pengalaman digital nasabah.
Memasuki 2026, perusahaan menyatakan akan menerapkan strategi ekspansi yang lebih adaptif. Peningkatan profitabilitas disebut akan didorong oleh ekspansi pendapatan seiring pertumbuhan pembiayaan, diversifikasi sumber pendanaan, optimalisasi biaya dana melalui kolaborasi strategis, serta efisiensi operasional.
Adapun pada 2025, Akulaku Finance mencatat realisasi pembiayaan baru senilai Rp 7,44 triliun (unaudited), meningkat 23% dibandingkan 2024. Pertumbuhan itu, menurut Perry, terutama didorong produk buy now pay later (BNPL) yang menjadi kontributor utama dengan porsi sekitar 89% dari keseluruhan portofolio.
Sejalan dengan pertumbuhan pembiayaan, perusahaan membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 108 miliar pada 2025, naik 66% secara tahunan.

