Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan telah masuk jajaran 20 besar bursa dunia dari sisi likuiditas, seiring meningkatnya nilai transaksi harian di pasar modal domestik.
Penjabat Sementara (Pjs.) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan rata-rata nilai transaksi harian saat ini telah melampaui USD1 miliar. Bahkan, pada dua bulan pertama 2026, rata-ratanya mencapai sekitar USD1,8 miliar.
“Untuk nilai transaksi, sekarang kita sudah di atas 1 billion dollar, bahkan average dua bulan pertama kita jadi 1,8 billion dollar. Itu sudah menempatkan kita di posisi 20 besar,” ujar Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jumat (27/3/2026).
Selain likuiditas, Jeffrey menyebut BEI juga tercatat sebagai salah satu bursa dengan kapitalisasi pasar terbesar di kawasan ASEAN. Ke depan, otoritas bursa menargetkan kapitalisasi pasar domestik terus bertumbuh hingga masuk kelompok 10 besar dunia.
Menurut Jeffrey, ukuran bursa kelas dunia tidak hanya ditentukan oleh besarnya kapitalisasi pasar dan nilai transaksi, tetapi juga mencakup aspek tata kelola, variasi produk, serta kualitas sumber daya manusia.
“Itu yang harus kita lakukan dan kita sekarang sedang menuju ke situ,” kata Jeffrey.
Dalam pengembangannya, BEI menyoroti pentingnya diversifikasi instrumen investasi. Saat ini, ketergantungan pasar terhadap instrumen saham masih dominan, sehingga pengembangan produk lain dinilai perlu didorong untuk memperkuat struktur pasar.
Seiring peningkatan skala pasar, BEI juga menekankan perlunya memperluas basis investor domestik. BEI mencatat jumlah investor telah mencapai lebih dari 23 juta per awal tahun lalu, dan ditargetkan meningkat hingga minimal 30 juta investor dalam 4–5 tahun ke depan, yakni pada 2030.