Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% pada Kamis, 19 Januari. Sejalan dengan keputusan tersebut, BI juga menaikkan suku bunga deposit facility dan lending facility masing-masing 25 bps menjadi 5% dan 6,5%.
Keputusan ini disebut sejalan dengan konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg. Tingkat suku bunga acuan tersebut menjadi yang tertinggi sejak Juli 2019. Dalam laporan Bloomberg, para ekonom memperkirakan BI masih berpeluang menaikkan suku bunga sekali lagi hingga 6% yang diproyeksikan sebagai terminal rate.
Alasan kenaikan suku bunga
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kenaikan suku bunga 0,25% ditujukan untuk memastikan penurunan ekspektasi inflasi ke depan terus berlanjut. Perry juga menyampaikan BI menilai kenaikan suku bunga sebesar 225 bps sejak Agustus 2022 memadai untuk menjaga inflasi inti berada di kisaran 2—4% pada paruh pertama 2023, serta mendorong inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali ke rentang sasaran 2—4% pada paruh kedua 2023.
Perkembangan inflasi 2022
Sepanjang 2022, Indonesia mencatat inflasi sebesar 5,51% dibanding 1,87% pada 2021. Inflasi inti tercatat 3,36% dibanding 1,56% pada 2021. Angka tersebut lebih rendah daripada prediksi BI pada September 2022 yang memperkirakan inflasi dan inflasi inti masing-masing mencapai 6,5% dan 4,61%.
Dampak ke dunia usaha dan kredit perbankan
Dengan suku bunga yang dinilai mendekati titik puncak, kondisi ini berpotensi menjadi sentimen positif bagi dunia usaha karena tingkat suku bunga kredit yang lebih terukur dapat membantu pengendalian beban bunga, terutama bagi emiten yang memiliki fasilitas pinjaman perbankan.
Di sisi lain, fungsi intermediasi perbankan disebut terus membaik. Pertumbuhan kredit tercatat sebesar 11,35% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Desember 2022, meningkat dibanding Desember 2021 yang sebesar 5,24% YoY. Untuk 2023, BI memperkirakan pertumbuhan kredit berada di kisaran 10–12% YoY.
Nilai tukar rupiah dan pergerakan pasar
BI juga menyampaikan bauran kebijakan untuk stabilitas nilai tukar rupiah mulai menunjukkan hasil. Rupiah menguat 2,92% secara year-to-date (YTD) ke level Rp15.137 per dolar AS per 18 Januari 2023. Pada Kamis, 19 Januari, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,8% ke level 6.819.
Catatan terkait instrumen imbal hasil mengambang
Kenaikan suku bunga dapat berdampak pada investasi pendapatan tetap dengan imbal hasil mengambang (floating rate). Salah satu contoh yang disebut adalah SBR012 yang memiliki kupon mengambang dengan acuan BI-7DRR ditambah spread: BI-7DRR + 65 bps untuk tenor 2 tahun (SBR012 T2) dan BI-7DRR + 85 bps untuk tenor 4 tahun (SBR012 T4). Dengan BI7DRRR di 5,75%, ilustrasi imbal hasil SBR012 T2 menjadi 6,4% dari sebelumnya 6,15%, sementara SBR012 T4 menjadi 6,6% dari sebelumnya 6,35%.
Penyesuaian kupon pertama SBR012 disebut dilakukan pada Juni 2023 dengan mengacu pada BI-7DRR pada Mei 2023, dan perhitungan tersebut merupakan contoh apabila suku bunga pada Mei 2023 tetap 5,75%.
Kinerja marketing sales Ciputra Development pada 2022
Di luar kebijakan suku bunga, Ciputra Development mencatatkan kenaikan marketing sales pada 2022. Marketing sales emiten tersebut naik 11% YoY menjadi Rp8,24 triliun, setara dengan 98% dari target 2022F yang sempat dinaikkan menjadi Rp8,41 triliun dari sebelumnya Rp7,8 triliun. Capaian 2022 juga melampaui marketing sales 2019 yang tercatat Rp6,1 triliun.
- Komposisi pre-sales: rumah tapak 79%, ruko 17%, apartemen 3%, dan kantor 1%.
- Rentang harga yang paling banyak terjual berada pada Rp2–5 miliar.
- Kontribusi wilayah: Sumatera dan Surabaya Raya masing-masing menopang 24% pre-sales.
- Proyek baru yang disebut menopang capaian antara lain CitraLand Tanjung Morawa KDM di Medan dengan take up rate 42% dari 703 unit dan marketing sales Rp260 miliar, serta CitraLand Gama City Medan – Ruko R1 yang sold out 35 unit dengan total Rp123 miliar.
Dari segmen recurring income, lima mal Ciputra mencapai rata-rata okupansi 87% pada 9M22 dari total net leasable area (NLA) 256 ribu m2. Okupansi hotel tercatat 63% pada 9M22, dibanding 43% pada 9M21, yang dikaitkan dengan dicabutnya pembatasan perjalanan.

