PT Blue Bird Tbk (BIRD) menegaskan komitmennya menjaga pertumbuhan bisnis yang konsisten di tengah dinamika pasar modal serta potensi ketidakpastian ekonomi global. Direktur Utama PT Blue Bird Tbk Adrianto Djokosoetono mengatakan konsistensi kinerja menjadi kunci untuk mempertahankan kepercayaan investor sebagai perusahaan terbuka.
Adrianto menyampaikan Bluebird telah memenuhi ketentuan kepemilikan saham publik (free float) yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia. Saat ini porsi saham publik perseroan berada di kisaran 24,94 persen, yang dinilai memadai untuk menjaga likuiditas perdagangan saham di pasar.
“Kami sudah memenuhi ketentuan free float sejak lama, saat ini sekitar 24,94 persen. Fokus kami di manajemen adalah menjaga konsistensi pertumbuhan,” ujar Adrianto dalam acara Editor Media Iftar Gathering Bluebird 2026 di Jakarta, Senin (9/3/2026).
Ia menambahkan, bagi investor yang mencermati fundamental perusahaan, tingkat imbal hasil (dividend yield) saham Bluebird dinilai cukup menarik. Meski demikian, manajemen menekankan fokus tidak semata pada kinerja jangka pendek, melainkan menjaga pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Bluebird juga mencermati dinamika geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur logistik energi maupun komponen otomotif. Menurut Adrianto, perusahaan bersikap waspada terhadap kemungkinan dampak gangguan tersebut, terutama terkait ketersediaan armada dan biaya operasional.
“Dua bulan ke depan bisa menjadi periode yang cukup krusial. Gangguan pada jalur logistik berpotensi membuat pengiriman lebih lama dan biaya meningkat,” ujarnya.
Terkait adopsi kendaraan listrik, Bluebird menilai investasi kendaraan listrik (EV) perlu dihitung secara menyeluruh melalui siklus kepemilikan (cycle of ownership). Adrianto menjelaskan perhitungan tidak hanya mencakup biaya operasional, tetapi juga harga pembelian hingga nilai jual kembali kendaraan.
“Kita selalu harus melihat satu cycle of ownership. Dari mulai beli, operasional, hingga nilai jual kembali. Mobil listrik sering dianggap lebih murah, padahal harga awalnya lebih mahal, dan operasionalnya belum tentu lebih murah karena ada faktor penggantian baterai hingga harga ban yang lebih tinggi,” kata Adrianto.
Ia menilai nilai jual kembali mobil listrik saat ini masih cenderung turun tajam. Karena itu, Bluebird memilih melakukan transisi secara bertahap dengan menjaga porsi armada listrik di kisaran 3–4 persen dari total armada. Langkah tersebut disebut ditujukan untuk menjaga profitabilitas perusahaan sekaligus mempertahankan kepercayaan investor.
Menurut Adrianto, armada EV Bluebird juga masih dalam tahap penyesuaian tarif untuk mencapai titik impas atau break even point (BEP). “Tarif unit EV saat ini masih kami sesuaikan untuk mengejar BEP. Bahkan dengan harga unit seperti BYD E6 sekalipun, secara keseluruhan masih belum sepenuhnya menutup biaya,” ujarnya.
Adrianto menambahkan, kendaraan berbahan bakar bensin atau internal combustion engine (ICE) masih memiliki nilai jual kembali yang relatif stabil, sementara mobil listrik berpotensi mengalami depresiasi lebih besar setelah beberapa tahun penggunaan.

