BERITA TERKINI
Bursa Asia Diperkirakan Melemah, Harga Minyak Brent Tembus US$100 per Barel

Bursa Asia Diperkirakan Melemah, Harga Minyak Brent Tembus US$100 per Barel

Bursa saham dan obligasi di Asia diperkirakan melanjutkan pelemahan pada Jumat pagi, mengikuti arah negatif pasar Wall Street. Kenaikan kembali harga minyak mentah memicu kekhawatiran bahwa perang di Iran dapat semakin mengganggu pasokan energi dan mendorong inflasi global.

Kontrak berjangka untuk pasar Jepang, Hong Kong, dan Australia terpantau sama-sama melemah. Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 turun 1,5% dan menyentuh level terendah sejak November. Tekanan juga menjalar ke saham teknologi berkapitalisasi besar yang sebelumnya menjadi tujuan investor saat pasar bergejolak. Nasdaq 100 turun 1,7%, sementara indeks saham megakapitalisasi dilaporkan mendekati ambang batas koreksi.

Di pasar komoditas, emas sempat turun 1,9% sebelum berbalik naik tipis pada Jumat pagi. Pergerakan aset-aset tersebut terjadi seiring lonjakan harga minyak. Minyak Brent ditutup di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.

Berdasarkan data pelacakan kapal, lalu lintas tanker minyak melalui Selat Hormuz disebut hampir terhenti sepenuhnya, mempertegas adanya hambatan besar pada rantai pasok energi.

Di pasar obligasi, surat utang Australia dibuka melemah setelah obligasi pemerintah AS (Treasury) jatuh akibat meningkatnya ekspektasi inflasi. Pelaku pasar juga disebut telah menghapus ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve pada 2026.

Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun yang sensitif terhadap kebijakan naik sembilan basis poin menjadi 3,74%, sementara tenor 10 tahun naik menjadi 4,26%. Pada saat yang sama, dolar AS menyentuh level tertinggi dalam dua bulan terakhir.