Pasar saham Asia diperkirakan bersiap menguat setelah muncul sinyal dari Donald Trump terkait upaya mengakhiri perang dengan Iran. Namun, pergerakan pasar terbaru menunjukkan investor tetap sangat sensitif terhadap setiap perkembangan di Timur Tengah, dengan volatilitas yang diperkirakan masih tinggi.
Gejolak dalam satu sesi perdagangan menegaskan betapa cepat sentimen bisa berubah. Satu judul berita disebut mampu memulihkan kerugian miliaran dolar dalam waktu singkat. Meski demikian, pelaku pasar masih menimbang risiko konflik geopolitik yang bergerak cepat tanpa panduan perdagangan yang jelas.
“Apa yang kita lihat sekarang lebih merupakan reli pemulihan setelah episode penghindaran risiko yang ekstrem, bukan pergeseran tulus kembali ke lingkungan yang sepenuhnya berani mengambil risiko,” ujar Dilin Wu, pakar strategi riset di Pepperstone Group.
Di pasar komoditas, minyak mentah mengalami sesi yang sangat volatil pada Senin, dengan ayunan harga terlebar sejak krisis pandemi. Harga sempat melonjak mendekati US$120 per barel pada Senin pagi, sebelum akhirnya turun kembali setelah negara-negara ekonomi terbesar dunia mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak darurat.
Meski harga mereda, ancaman terhadap pasokan belum sepenuhnya hilang. Jalur vital Selat Hormuz dilaporkan secara efektif masih tertutup, sehingga memaksa produsen besar di Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, membatasi produksi.
Para menteri keuangan G-7 menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah apa pun guna mendukung pasokan energi, termasuk melepas cadangan minyak strategis, meski belum sampai pada tahap eksekusi. Reuters juga melaporkan Trump diperkirakan meninjau sejumlah opsi untuk meredam harga minyak, termasuk membatasi ekspor AS dan menangguhkan beberapa pajak federal.
“Kami memperkirakan pasar akan tetap fokus pada jangka pendek, sangat volatil, dan sangat dipengaruhi oleh berita-berita utama seiring perkembangan konflik minggu ini,” kata Carol Schleif dari BMO Private Wealth.

