Persaingan di industri layanan kesehatan mendorong perubahan peran kepala keuangan perusahaan. Sejumlah Chief Financial Officer (CFO) kini tidak lagi semata menjadi penjaga gerbang finansial, melainkan ikut menentukan arah pertumbuhan bisnis. Di Primaya Hospital Group, perubahan itu ditunjukkan oleh Irwan Rismawan yang menjabat CFO sejak Februari 2024.
Irwan membawa pengalaman lebih dari satu dekade sebagai konsultan merger and acquisition (M&A) serta kepemimpinan strategis di sektor FMCG. Dengan bekal tersebut, ia berupaya menggabungkan ketajaman analisis investasi dengan eksekusi operasional yang disiplin untuk menjawab karakter bisnis rumah sakit yang dinilainya unik dan kompleks.
Menurut Irwan, rumah sakit bukan sekadar penyedia layanan medis. Model bisnisnya mencakup dimensi properti karena mengelola aset fisik berupa gedung yang perlu dimaksimalkan utilisasinya. Ada pula aspek layanan yang mirip industri hospitality, di mana pengalaman pasien menjadi faktor penting.
Operasional rumah sakit juga memiliki karakter seperti FMCG karena bergantung pada manajemen inventori yang ketat, mulai dari obat hingga alat medis. Selain itu, terdapat elemen ritel, terutama pada layanan preventif seperti medical check-up yang memerlukan pendekatan pemasaran lebih proaktif.
Kompleksitas bertambah karena rumah sakit melayani berbagai kategori pasien dengan skema pembayaran berbeda, mulai dari pasien umum hingga pasien dengan asuransi atau perusahaan penjamin. Perbedaan mekanisme penagihan, tarif, dan administrasi membuat sistem billing, invoicing, dan pencatatan keuangan menjadi lebih rumit.
Dengan karakter tersebut, Irwan menilai fungsi keuangan tidak cukup hanya berperan sebagai unit kontrol atau pelaporan. Saat bergabung dengan Primaya, ia menempatkan misi untuk mentransformasi fungsi finance agar menjadi pencipta nilai atau value architect bagi organisasi.
Untuk memulai perubahan, Irwan menerapkan kerangka kerja “100-days plan” yang lazim digunakan dalam proyek M&A. Dalam 100 hari pertama, ia fokus mengidentifikasi akar permasalahan organisasi, terutama yang terkait efektivitas fungsi keuangan.
Ia menilai penguatan tim finance perlu dilakukan, bukan hanya mengandalkan sistem. Menurutnya, sistem penting untuk memastikan kontrol transaksi dan proses bisnis berjalan baik, tetapi tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam menjaga integritas dan kualitas pengelolaan keuangan.
Karena itu, prioritas Irwan adalah memperkuat dua aspek dalam tim keuangan: integritas dan keterampilan. Keterampilan dinilai lebih mudah ditingkatkan melalui pelatihan, sedangkan integritas membutuhkan proses pembinaan lebih panjang melalui mentoring dan pembentukan budaya kerja.
Ia menyelenggarakan pelatihan tatap muka secara berkala, yang dianggap penting karena Primaya mengoperasikan 20 rumah sakit dan 10 unit usaha di berbagai kota. Selain itu, ia memperkenalkan pelatihan online yang rutin dilakukan setiap bulan, serta aktif turun ke unit rumah sakit untuk berdiskusi, mengecek proses kerja, dan memberi arahan.
Dari sisi teknologi, Irwan menyebut fondasi digital Primaya sudah cukup kuat. Sistem inti rumah sakit, termasuk hospital information system, telah terdigitalisasi menyeluruh. Proses seperti electronic medical record (EMR), pengelolaan rekam medis, billing, dan data operasional telah berjalan dalam sistem terintegrasi.
Namun, untuk pemanfaatan teknologi yang lebih maju seperti artificial intelligence (AI) dalam fungsi keuangan, ia menilai perlu dilakukan bertahap. Menurutnya, perusahaan masih berada pada fase membangun fondasi data yang lebih kuat sebelum mengintegrasikan AI ke proses keuangan.
Primaya juga memperluas digitalisasi pada proses yang sebelumnya manual. Salah satu inisiatif yang diluncurkan pada pertengahan 2025 adalah sistem e-purchasing. Pengajuan investasi atau pembelian barang yang sebelumnya menggunakan dokumen kertas dialihkan sepenuhnya ke sistem digital agar alur persetujuan lebih transparan dan efisien.
Integrasi digital juga dilakukan dengan vendor, khususnya pemasok obat dan alat kesehatan. Proses pembelian, pengiriman, hingga pencatatan transaksi kini dapat dilakukan melalui sistem terintegrasi tanpa menunggu dokumen manual seperti faktur fisik.
Di sisi pengambilan keputusan, Irwan menekankan investasi sebagai kunci pertumbuhan, tetapi harus tetap berada dalam koridor disiplin finansial. Ia menilai fungsi keuangan tidak boleh menjadi penghambat pertumbuhan hanya karena terlalu konservatif. Sebaliknya, disiplin keuangan harus menjadi fondasi agar perusahaan tumbuh berkelanjutan.
Salah satu perubahan yang diterapkan adalah pergeseran orientasi dari sekadar profit menjadi kombinasi antara profit dan cash. Irwan menekankan pentingnya likuiditas, dengan prinsip “cash is the king” sebagai dasar membangun fondasi keuangan yang sehat.
Untuk memperkuat manajemen kas, setiap unit rumah sakit diwajibkan menyusun proyeksi arus kas secara berkala. Proyeksi ini digunakan untuk memantau kesehatan keuangan unit sekaligus menjadi dasar pengambilan keputusan alokasi modal, mengingat investasi tidak dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa ketersediaan kas.
Irwan menyebut keputusan investasi selalu dimulai dari kejelasan strategi bisnis. Selanjutnya, perusahaan mengidentifikasi investasi yang dapat memberi dampak paling cepat dan besar. Setiap usulan investasi harus disertai feasibility study yang memuat proyeksi layanan, potensi pendapatan, dan estimasi pengembalian investasi.
Pendekatan serupa diterapkan untuk pengadaan alat kesehatan. Unit rumah sakit harus mengajukan proposal yang mencakup proyeksi utilisasi alat dan kontribusinya terhadap kinerja finansial.
Meski begitu, Irwan menilai tidak semua investasi dapat dinilai semata dari perspektif finansial jangka pendek. Ia mencontohkan akuisisi perusahaan distributor alat kesehatan dan farmasi PT Lynas Medikal oleh Primaya. Informasi dari bisnis distribusi tersebut dinilai menjadi sumber insight bagi Primaya untuk mengetahui alat kesehatan yang berkembang dan berpotensi menjadi standar baru, sehingga rumah sakit dapat lebih cepat mengadopsi teknologi terbaru dan berpeluang menjadi pionir penggunaannya.
Dari sisi kinerja, Primaya mencatat pertumbuhan pendapatan yang kuat. Berdasarkan data unaudited, pendapatan perusahaan tumbuh sekitar 17% pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan 2024 yang berada di kisaran 14%.
EBITDA perusahaan juga tercatat tumbuh sekitar 24%, melampaui pertumbuhan pendapatan. Hal ini menunjukkan perusahaan tidak hanya membuka potensi pendapatan baru, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional.
Selain kinerja finansial, Irwan menyebut ekspansi strategis dilakukan melalui dua akuisisi: PT Lynas Medikal, serta dua rumah sakit yaitu RS UKRIDA di Jakarta Barat dan RS FMC di Bogor yang masuk ke jaringan Primaya.
Irwan menegaskan peran CFO tidak bisa dipahami sempit sebagai pengelola angka atau penjaga disiplin keuangan. Menurutnya, CFO harus menempatkan diri sesuai konteks bisnis organisasi. Saat perusahaan berada dalam fase ekspansi, fungsi keuangan harus mendukung pertumbuhan, termasuk mempertimbangkan investasi berdampak jangka panjang, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
Di saat yang sama, ia menekankan CFO tetap berperan sebagai controller yang memastikan setiap keputusan bisnis dijalankan secara prudent dan dapat dipertanggungjawabkan. Bagi Irwan, kemampuan menyeimbangkan peran sebagai mitra strategis sekaligus penjaga disiplin finansial menjadi kunci kepemimpinan keuangan.