BERITA TERKINI
Daya Beli Melemah, Pertumbuhan Kredit Konsumsi Melambat di Momentum Ramadan 2026

Daya Beli Melemah, Pertumbuhan Kredit Konsumsi Melambat di Momentum Ramadan 2026

Momentum Ramadan yang biasanya menjadi periode puncak belanja masyarakat tahun ini menunjukkan gejala berbeda. Di tengah sinyal pelemahan daya beli, laju kredit konsumsi justru melambat, mencerminkan kecenderungan rumah tangga menahan pengeluaran dan mengurangi minat berutang untuk kebutuhan konsumtif.

Data sementara Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit industri secara keseluruhan terkoreksi menjadi 8,9% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sempat berada di level 10,2% yoy.

Perlambatan juga terlihat pada kredit konsumsi rumah tangga yang tumbuh 6,3% yoy, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya sebesar 7,2% yoy. Pelemahan ini terjadi merata pada sejumlah instrumen kredit konsumsi.

Rinciannya, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) melambat menjadi 5% yoy dari sebelumnya 5,5% yoy. Kredit multiguna terkoreksi menjadi 8,7% yoy dari 9,9% yoy. Sementara Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) tercatat 7,9% yoy, dibandingkan 6,7% yoy pada periode sebelumnya.

Kondisi ini menjadi sorotan karena terjadi pada periode belanja musiman ketika konsumsi biasanya meningkat. Situasi ekonomi domestik yang dinilai rapuh mendorong masyarakat lebih berhati-hati dalam memperluas pengeluaran, termasuk melalui penambahan utang.

Sejumlah faktor disebut turut menekan daya beli. Tekanan biaya hidup meningkat seiring inflasi energi dan harga pangan. Pada sebagian rumah tangga, bantalan ekonomi (buffer stock) juga disebut menipis. Di saat yang sama, kehati-hatian konsumsi menguat karena ketidakpastian pendapatan ke depan, ditambah kondisi global dan tensi geopolitik yang memperbesar ketidakpastian.

Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai perbankan saat ini lebih memprioritaskan manajemen risiko dibanding mengejar ekspansi volume. Fokus lembaga keuangan, menurutnya, adalah menjaga kualitas aset di tengah ketidakpastian yang diperkirakan masih membayangi hingga semester II-2026.

Di sisi lain, perbankan tetap menyiapkan strategi untuk menjaga kinerja. Bank Syariah Indonesia (BSI) misalnya, masih menjadikan segmen konsumsi sebagai penggerak utama dengan porsi 72,5% dari total pembiayaan per Februari 2026. Namun, pertumbuhan pembiayaan BSI tercatat melambat menjadi 14,32% yoy.

Manajemen BSI tetap menyampaikan optimisme terhadap prospek ke depan, dengan harapan adanya stimulus pemerintah berupa kelonggaran likuiditas dan subsidi untuk mendorong daya beli di sektor riil.

Secara umum, langkah yang ditempuh perbankan dalam menghadapi situasi ini mencakup penerapan manajemen risiko yang terukur dan terintegrasi pada setiap segmen nasabah, penguatan tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG), penawaran promo khusus melalui pameran untuk memicu minat kredit, serta optimalisasi likuiditas guna mendukung penyaluran kredit yang lebih selektif.

Ke depan, pertumbuhan kredit diperkirakan tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya. Perbankan disebut akan terus memantau perkembangan inflasi dan kebijakan pemerintah sebagai acuan ekspansi, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi dan tekanan daya beli yang belum menunjukkan tanda pemulihan signifikan. Data yang digunakan dalam laporan ini bersifat sementara dan dapat berubah mengikuti rilis resmi otoritas terkait.