Memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memicu kekhawatiran di kalangan dunia usaha Indonesia. Pelaku usaha menilai dampaknya berpotensi merembet ke berbagai sektor, mulai dari lonjakan harga energi, kenaikan biaya logistik, hingga tekanan pada harga pangan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan risiko utama konflik di Timur Tengah tidak hanya berasal dari sentimen pasar. Ancaman juga datang dari potensi gangguan jalur energi dan perdagangan global, terutama di kawasan Selat Hormuz yang disebut sebagai titik vital perdagangan energi dunia. Sekitar 20% minyak dunia diketahui melewati jalur tersebut.
Shinta menilai, kekhawatiran pelaku usaha saat ini terpusat pada meningkatnya risk premium harga minyak dan gas serta kenaikan biaya logistik internasional. Menurutnya, bahkan tanpa penutupan jalur secara fisik, ketidakpastian sudah dapat mendorong lonjakan harga energi dan biaya logistik global.
Indonesia, sebagai negara importir minyak, dinilai berpotensi menghadapi tekanan biaya produksi apabila harga energi global melonjak. Kondisi ini juga dapat mempersempit ruang fiskal jika harga energi melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Selain energi, APINDO juga mencermati potensi rambatan terhadap inflasi pangan. Shinta menyebut kenaikan harga energi dapat berdampak pada biaya distribusi, logistik, dan transportasi komoditas pangan. Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dapat mempercepat kenaikan harga bahan pokok, terutama jika dibarengi gangguan pasokan global atau pelemahan nilai tukar. Karena itu, stabilitas pasokan dan distribusi pangan dinilai menjadi aspek krusial bila dampak konflik meluas dan berkepanjangan.
Dari sisi fiskal, Shinta menilai apabila harga energi bertahan tinggi, beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi meningkat. Pemerintah dinilai perlu mengelola risiko tersebut secara hati-hati agar tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap defisit maupun pembiayaan utang negara. Pengelolaan utang yang disiplin, menjaga rasio defisit dalam koridor kredibel, serta memastikan belanja negara tepat sasaran disebut penting untuk menjaga kepercayaan pasar.
Di sisi eksternal, dinamika risk-off global juga dinilai bisa meningkatkan volatilitas nilai tukar. Pelemahan rupiah akan memperbesar biaya impor energi dan pangan, sehingga koordinasi kebijakan moneter dan fiskal perlu diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Menurut Shinta, dampak terhadap sektor usaha akan beragam. Industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada energi dan logistik internasional diperkirakan merasakan tekanan secara langsung. Sektor padat karya juga disebut menjadi salah satu yang paling rentan karena margin relatif tipis dan sensitif terhadap kenaikan biaya distribusi, bahan baku impor, serta gangguan permintaan ekspor.
Meski hubungan dagang langsung Indonesia dengan Iran dan Israel relatif terbatas, Shinta menilai efek tidak langsung justru lebih signifikan. Dampak tersebut dapat muncul melalui kenaikan harga energi global, disrupsi perdagangan internasional, inflasi pangan, nilai tukar, hingga sentimen pasar keuangan.
Dalam jangka pendek, pelaku usaha disebut berfokus pada langkah mitigasi risiko yang realistis dan adaptif. Upaya yang ditempuh antara lain penyesuaian struktur biaya produksi dan distribusi, peningkatan efisiensi operasional, serta penerapan manajemen risiko yang lebih disiplin termasuk pengelolaan eksposur valuta asing. Dunia usaha juga melakukan diversifikasi sumber pasokan dan memanfaatkan instrumen lindung nilai atau natural hedging yang tersedia.
Shinta menyebut dunia usaha menyikapi situasi ini dengan pendekatan wait and see but prepared apabila tekanan global berlanjut. APINDO juga mendorong pemerintah menjaga stabilitas harga energi dan pangan secara terukur, memperkuat cadangan serta distribusi logistik strategis, memastikan disiplin fiskal dan kebijakan moneter, serta pengelolaan utang yang prudent.
Sementara itu, situasi geopolitik di Timur Tengah juga dinilai berpotensi berdampak pada sektor pariwisata Indonesia. Direktur Komersial InJourney Veronica H Sisilia mengatakan volatilitas harga energi dan nilai tukar dapat memengaruhi sektor transportasi, termasuk pembatalan penerbangan.
Meski demikian, Veronica menilai pariwisata domestik masih memiliki daya tahan yang kuat. Ia mencontohkan, pada Desember 2025 kunjungan wisatawan mancanegara tercatat meningkat 14,4%, yang menurutnya menunjukkan sektor pariwisata nasional masih cukup kuat. Namun ia mengakui pembatalan penerbangan tetap berpotensi terjadi dan akan berdampak pada industri.

