BERITA TERKINI
Ekonomi Tiongkok di Persimpangan: Ekspor Rekor, Konsumsi Lemah, dan Ketimpangan Wilayah

Ekonomi Tiongkok di Persimpangan: Ekspor Rekor, Konsumsi Lemah, dan Ketimpangan Wilayah

Perekonomian Tiongkok menampilkan dua wajah yang kontras. Di satu sisi, negara ini mencatat rekor ekspor dan surplus perdagangan yang besar. Di sisi lain, konsumsi domestik tetap lemah, ketimpangan antardaerah melebar, dan sejumlah risiko struktural—mulai dari krisis properti hingga tekanan demografi—membayangi prospek pertumbuhan.

Pada 2024, ekspor Tiongkok mencapai rekor baru setara €3,4–€3,5 triliun, naik 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan itu mendorong surplus perdagangan bersejarah sebesar US$992 miliar. Namun impor hanya tumbuh 1,1%, yang mengindikasikan permintaan domestik yang tidak sekuat kinerja ekspor. Data perdagangan juga menunjukkan volume ekspor barang manufaktur meningkat lebih dari 10%, sementara nilai per unit ekspor kerap menurun—yang dalam laporan ini dibaca sebagai sinyal kelebihan kapasitas.

Di dalam negeri, konsumsi rumah tangga menjadi titik lemah yang terus berulang. Rasio konsumsi domestik disebut menyumbang kurang dari 40% dari output ekonomi tahunan, sekitar 20 poin persentase di bawah rata-rata global. Pertumbuhan konsumsi juga tidak merata: kota-kota metropolitan seperti Shanghai, Beijing, Guangzhou, dan Shenzhen disebut mengalami stagnasi, sementara beberapa kota yang lebih kecil mencatat kecenderungan konsumsi lebih tinggi. Shanghai, misalnya, hanya mencatat pertumbuhan konsumsi 0,5%, sedangkan kota-kota seperti Wenzhou, Jinhua, Taizhou, dan Quanzhou dilaporkan berada jauh di atas rata-rata nasional sekitar 5%.

Ketergantungan pada pasar luar negeri terjadi bersamaan dengan konsentrasi kekuatan ekonomi di wilayah tertentu. Empat provinsi di timur—Guangdong, Jiangsu, Shandong, dan Zhejiang—secara gabungan menghasilkan hampir 35% produk domestik bruto (PDB) nasional. Guangdong berada di posisi teratas, dengan PDB 2024 sebesar 14.163 miliar yuan (pangsa 10,50%), diikuti Jiangsu 13.701 miliar yuan (10,16%) dan Shandong 9.857 miliar yuan (7,31%). Zhejiang berada di peringkat keempat dengan 9.013 miliar yuan (6,68%).

Data kinerja terbaru juga menegaskan perbedaan dinamika di pusat-pusat ekonomi. Guangdong mencatat pertumbuhan 4,1% pada kuartal pertama 2025, disebut masih di bawah target tahunan, tetapi meningkat 0,6 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Shanghai, sementara itu, dilaporkan naik dua peringkat secara nasional—dari peringkat ke-11 ke ke-9—dengan PDB kuartal pertama sebesar 1,273 triliun yuan dan pertumbuhan 5,1%, sedikit di atas target tahunannya.

Di luar kawasan pesisir yang kuat, ketertinggalan wilayah lain terlihat tajam. Pendapatan per kapita di Beijing disebut mencapai 190.313 yuan, sedangkan di Gansu 41.864 yuan—selisih hampir lima kali lipat. Wilayah barat seperti Tibet dan Qinghai secara bersama-sama hanya menghasilkan 6,3% output ekonomi. Laju konvergensi antardaerah juga dinilai lambat; sebuah studi yang dikutip menyebut dibutuhkan sekitar setengah abad untuk memangkas separuh kesenjangan kinerja ekonomi antarwilayah administratif.

Ketimpangan ini berkaitan pula dengan pergeseran demografi dan migrasi tenaga kerja. Pekerja muda cenderung terkonsentrasi di kota-kota dan provinsi pesisir yang lebih makmur, sementara wilayah tengah dan barat menghadapi arus keluar penduduk serta penurunan angka kelahiran. Dalam skala nasional, populasi Tiongkok dilaporkan menyusut pada 2022, 2023, dan 2024, sementara populasi usia kerja sudah menurun. Angkatan kerja usia 15–64 tahun disebut telah mencapai puncaknya dan diperkirakan menurun tajam mulai 2030, yang berpotensi membuat kontribusi tenaga kerja terhadap PDB menjadi negatif dalam beberapa tahun.

Di saat yang sama, krisis properti masih menjadi sumber tekanan. Sektor properti disebut pernah menyumbang sekitar seperempat PDB pada puncaknya, sementara perumahan mewakili hampir 80% aset swasta. Laporan ini juga mencatat bahwa pada Juni 2024, 40 bank mengajukan kebangkrutan dalam waktu seminggu, serta menyoroti besarnya peran sistem perbankan bayangan dengan aset yang disebut berada di kisaran US$3–12 triliun dan banyak berinvestasi pada proyek properti. Di tengah situasi itu, krisis perumahan digambarkan berlanjut dengan 400 juta meter persegi rumah kosong dan utang rumah tangga mencapai 145% dari pendapatan yang dapat dibelanjakan. Pemerintah disebut menyalurkan program dukungan lebih dari 200 miliar yuan dan Bank Rakyat Tiongkok menurunkan suku bunga hingga 1,5%, namun kelemahan struktural dinilai masih bertahan.

Sejumlah indikator sosial-ekonomi turut memperlihatkan tantangan. Tingkat pengangguran kaum muda disebut berada sedikit di bawah 19%. Soal ketimpangan, koefisien Gini resmi Tiongkok tercatat 0,466 pada 2022, sementara studi independen yang dikutip memperkirakan nilainya di atas 0,6; sebagai pembanding, Jerman disebut berada pada 0,29.

Dalam merespons tekanan tersebut, Beijing mendorong strategi “sirkulasi ganda” untuk memperkuat siklus ekonomi domestik tanpa menutup peran perdagangan luar negeri. Pemerintah juga menegaskan agenda kemandirian teknologi dalam Dokumen Pleno Ketiga pada Juli 2024, dengan fokus pada “kekuatan produksi berkualitas baru” di sektor berteknologi tinggi seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, kedirgantaraan, dan biomedis. Sebelas kawasan teknologi tinggi utama disebut membangun jaringan kolaboratif untuk mendorong inovasi industri AI, termasuk Zhongguancun di Beijing, Kawasan Teknologi Tinggi Shanghai, serta kawasan di Shenzhen dan Chengdu.

Upaya memperluas pasar dan rute perdagangan juga dikaitkan dengan Inisiatif Sabuk dan Jalan, yang disebut memungkinkan pemanfaatan cadangan devisa untuk investasi, membuka pasar baru bagi kelebihan kapasitas industri, serta mendukung internasionalisasi perusahaan Tiongkok dan diversifikasi pasokan energi.

Untuk mendorong permintaan dalam negeri, pemerintah disebut menyiapkan program konsumsi pada 2025, termasuk subsidi pembelian, subsidi suku bunga pinjaman, dan langkah peningkatan manfaat sosial. Dalam dokumen resmi, istilah “konsumsi” disebut muncul 31 kali, naik dari 21 kali pada tahun sebelumnya, disertai rencana aksi khusus untuk merangsang belanja rumah tangga. Meski begitu, laporan ini mencatat penilaian sebagian analis bahwa langkah-langkah tersebut belum memadai atau tidak berkelanjutan karena persoalan struktural—seperti perlindungan sosial yang lemah dan ketidakamanan pekerjaan—belum terselesaikan.

Dari sisi pertumbuhan, Tiongkok disebut mencapai target pertumbuhan 5% pada 2024 dengan dukungan stimulus di akhir tahun; pertumbuhan kuartal keempat mencapai 5,4% dan 1,6% secara kuartalan. Namun untuk 2025, proyeksi pertumbuhan berada di kisaran 4,5–4,8%, di bawah target resmi 5%, dengan ekspor masih diperkirakan menjadi pendorong utama sementara sektor domestik tertinggal.

Perubahan lanskap global juga turut menjadi konteks. Amerika Serikat dilaporkan menyalip Tiongkok sebagai mitra dagang terpenting Jerman pada 2024, pertama kali sejak 2016. Volume perdagangan Jerman–Tiongkok tercatat €246 miliar, sedangkan dengan AS €255 miliar. Ekspor Jerman ke Tiongkok turun 7,6% pada 2024, melanjutkan penurunan 8,8% pada 2023.

Dengan kombinasi ekspor yang tetap kuat, konsumsi domestik yang tertahan, ketimpangan regional yang tajam, serta risiko dari sektor properti dan demografi, perekonomian Tiongkok berada pada fase penyesuaian yang menentukan. Keberhasilan strategi “sirkulasi ganda” dan dorongan teknologi tinggi akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mengatasi masalah struktural yang menahan pemulihan permintaan domestik.