Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut kebutuhan investasi untuk merealisasikan proyek hilirisasi hingga 2040 diperkirakan mencapai US$ 618 miliar atau sekitar Rp 10.084 triliun.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, program hilirisasi dengan nilai tersebut berpotensi menciptakan sekitar 3 juta lapangan kerja. Dalam proyeksi ESDM, sektor minyak dan gas (migas) serta mineral dan batu bara (minerba) menjadi penopang utama, dengan kontribusi sekitar 91,7% dari total kebutuhan investasi.
“Ini akan mendorong PDB serta nilai ekspor secara signifikan. Subsektor migas, minerba menjadi tulang punggung utama dalam hilirisasi komoditas strategis ini dan akan menyumbang sekitar 91,7 persen dari total investasi,” ujar Yuliot dalam sambutan pada Wisuda Diploma Tiga ke-4 Tahun Akademik 2024/2025 sekaligus perayaan Dies Natalis ke-6 PEP Bandung di Jawa Barat, dikutip Kamis (14/8/2025).
Selain itu, Yuliot memaparkan Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional telah menyusun pra-studi kelayakan untuk 18 proyek hilirisasi. Total nilai investasi dari 18 proyek tersebut mencapai Rp 618,3 triliun dan diperkirakan dapat membuka sekitar 274 ribu lapangan kerja baru.
Meski demikian, ia menyoroti tantangan terkait kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, sekitar 70% penduduk usia kerja termasuk dalam angkatan kerja, dan hampir 5% di antaranya masih tergolong sebagai pencari kerja.

