Bursa saham global bergerak melemah, sementara harga minyak mentah terus naik seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Masuknya kelompok Houthi yang didukung Iran ke dalam konflik serta perluasan kehadiran militer Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran pasar akan konfrontasi yang berkepanjangan.
Pada Senin (30/3), kontrak berjangka (futures) indeks saham AS turun 0,6% dan bursa Asia dibuka melemah ketika konflik memasuki minggu kelima. Kenaikan harga minyak memunculkan kekhawatiran inflasi yang dinilai dapat mengancam pertumbuhan ekonomi global.
Minyak Brent tercatat naik lebih dari 2% hingga melampaui US$115 per barel. Di sisi lain, dolar AS—yang kerap menjadi aset aman (safe haven) saat perang—naik 0,2% dan mencatatkan penguatan selama lima hari berturut-turut.
Eskalasi meningkat setelah Israel kembali menyerang Teheran pada Minggu. Pada saat yang sama, Arab Saudi dilaporkan mencegat belasan drone, sehari setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman resmi terlibat dalam perang. Kedatangan sekitar 3.500 tentara tambahan AS ke Timur Tengah turut mempertegas risiko meluasnya konflik.
Matt Maley, kepala strategi pasar di Miller Tabak + Co., menilai eskalasi tersebut meningkatkan peluang perang berlangsung lebih lama dari perkiraan investor, yang berpotensi membuat harga minyak bertahan di level tinggi. Ia juga mengingatkan pasar perlu bersiap menghadapi pelemahan yang lebih dalam.