Bursa saham Asia memulai perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, dengan pergerakan bervariasi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak global. Kekhawatiran pasar berpusat pada potensi gangguan pasokan energi dan risiko perlambatan ekonomi dunia.
Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak mentah melonjak tajam. Brent crude oil ditutup naik sekitar 9,22% ke USD100,46 per barel pada Kamis malam, menjadi penutupan pertama di atas USD100 sejak Agustus 2022. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 9,72% dan berakhir di kisaran USD95,73 per barel.
Lonjakan harga energi terjadi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pidatonya pada Kamis malam menyatakan Selat Hormuz harus tetap ditutup dan Teheran siap membuka front konflik baru jika eskalasi militer terus berlanjut. Pernyataan tersebut turut diperkuat oleh Komandan Angkatan Laut Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), Alireza Tangsiri, yang memperingatkan akan memberikan “pukulan paling keras kepada musuh agresor.”
Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman minyak strategis, dengan sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati wilayah tersebut setiap hari. Ancaman terhadap jalur distribusi ini meningkatkan kekhawatiran pasar atas potensi gangguan perdagangan energi dan memperbesar peluang volatilitas harga minyak berlanjut.
Sentimen risk-off juga tercermin dari meningkatnya probabilitas resesi di Amerika Serikat berdasarkan pasar prediksi. Data dari platform Kalshi menunjukkan probabilitas resesi AS tahun ini naik menjadi sekitar 32%, yang disebut sebagai level tertinggi sepanjang tahun berjalan.
Di kawasan Asia, indeks ASX 200 Australia sempat dibuka menguat sekitar 0,3% dan pada sekitar pukul 08.15 WIB tercatat naik 0,13% ke level 8.640,1. Di Korea Selatan, indeks Kospi sempat dibuka melemah hampir 3% sebelum bergerak di kisaran penurunan sekitar 2,16% ke level 5.462,55, sementara indeks Kosdaq turun hampir 2% pada awal sesi.
Di Jepang, Nikkei 225 bergerak fluktuatif. Setelah sempat dibuka melemah sekitar 2%, indeks berbalik menguat sekitar 1,26% ke level 53.768,25. Pada saat yang sama, indeks Topix tercatat turun sekitar 1,4%. Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong mengindikasikan pembukaan lebih lemah, dengan kontrak terakhir diperdagangkan di kisaran 25.467, lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya di 25.716,76.
Pergerakan bursa Asia tersebut mengikuti tekanan yang sebelumnya terjadi di pasar saham utama Amerika Serikat dan Eropa, seiring lonjakan harga energi memicu kekhawatiran terhadap inflasi global dan potensi perlambatan aktivitas ekonomi.
Sentimen global itu juga berpotensi memengaruhi pasar domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis ditutup melemah sekitar 0,37% ke level 7.362,12. Sementara itu, iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) yang diperdagangkan di New York tercatat turun sekitar 1,98% ke level USD15,86 pada perdagangan terakhir.
Sejumlah analis memperkirakan IHSG pada perdagangan hari ini masih bergerak dalam pola sideways dengan kecenderungan melemah di tengah ketidakpastian global. Selain faktor geopolitik dan volatilitas harga energi, pelaku pasar juga mencermati dinamika menjelang periode libur panjang Lebaran.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 7.250–7.400 untuk jangka pendek. Level support dipantau di sekitar 7.250, sementara resistance disebut berada di kisaran 7.450.

