BERITA TERKINI
IFEX Jadi Panggung Indonesia Perkuat Posisi di Pasar Furnitur Global

IFEX Jadi Panggung Indonesia Perkuat Posisi di Pasar Furnitur Global

Pasar furnitur global saat ini bernilai sekitar USD 201 miliar per tahun, menjadikannya salah satu sektor manufaktur kreatif terbesar dalam perdagangan dunia. Namun, struktur pasar tersebut masih terkonsentrasi pada sejumlah negara eksportir utama.

China menjadi pemain dominan dengan nilai ekspor sekitar USD 130 miliar, disusul Vietnam sekitar USD 21 miliar dan Jerman sekitar USD 18 miliar. Di sisi lain, Indonesia mencatat ekspor furnitur dan kerajinan sekitar USD 2,44 miliar pada 2023, serta mencapai USD 2,37 miliar hingga November 2024. Angka ini menunjukkan Indonesia masih menjadi pemain relatif kecil di pasar global yang besar, sekaligus menyimpan peluang pertumbuhan jika strategi industri dan perdagangan dijalankan secara tepat.

Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang dinilai dapat menjadi modal bersaing, mulai dari ketersediaan bahan baku tropis seperti kayu dan rotan, hingga tradisi kriya yang telah diwariskan selama berabad-abad. Produk furnitur dan kerajinan dari Indonesia tidak hanya menawarkan fungsi, tetapi juga membawa identitas budaya, nilai estetika, dan kearifan lokal yang menjadi daya tarik tersendiri di pasar internasional.

Dalam konteks memperkuat akses pasar, Indonesia International Furniture Expo (IFEX) hadir sebagai platform yang mempertemukan industri nasional dengan pembeli global. Pameran ini diselenggarakan oleh Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) bersama Dyandra Promosindo, dan berkembang dari pameran dagang menjadi platform yang menghubungkan produsen furnitur Indonesia dengan buyers internasional.

Penyelenggaraan IFEX pada 5–8 Maret tahun ini di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City menandai fase baru dalam perjalanan pameran tersebut. Dengan luasan sekitar 85.000 meter persegi, IFEX disebut menjadi salah satu pameran furnitur terbesar di Asia Tenggara dan menempati venue pameran terbesar dan terbaik di Indonesia.

Perluasan skala pameran dinilai tidak hanya mencerminkan pertumbuhan ukuran acara, tetapi juga meningkatnya kepercayaan industri dan pasar internasional terhadap kemampuan Indonesia sebagai salah satu sumber furnitur dan kerajinan dunia. Strategi menghadirkan buyers ke Indonesia melalui pameran berskala internasional dipandang sebagai pendekatan yang efektif, sebagaimana dilakukan sejumlah negara untuk memperkuat industri melalui platform perdagangan global.

Vietnam menjadi salah satu contoh yang disebut berhasil meningkatkan ekspor furnitur lebih dari tujuh kali lipat dalam dua dekade terakhir. Keberhasilan itu dikaitkan tidak hanya dengan kekuatan industri, tetapi juga dukungan kebijakan pemerintah yang konsisten dalam promosi perdagangan, investasi industri, dan penguatan rantai pasok.

Indonesia dinilai memiliki potensi yang sebanding, ditopang basis industri yang luas, kekayaan desain yang berakar pada budaya, serta meningkatnya kesadaran global terhadap produk berkelanjutan. Dalam situasi tersebut, IFEX diposisikan sebagai jembatan antara potensi industri nasional dan pasar global, membuka peluang bagi produsen dari berbagai daerah untuk bertemu langsung dengan buyers internasional, membangun jaringan bisnis, dan memperluas akses pasar.

Momentum ini juga menegaskan peluang industri furnitur dan kerajinan Indonesia untuk naik kelas dan memperkuat daya saing di tingkat global. Jika platform seperti IFEX terus diperkuat melalui kolaborasi industri, pemerintah, dan pelaku perdagangan internasional, Indonesia dinilai memiliki peluang meningkatkan kontribusinya di pasar furnitur dunia.

Di tengah permintaan global yang kian mengarah pada produk berkualitas dengan keunikan desain, keberlanjutan material, serta cerita budaya di baliknya, Indonesia disebut memiliki unsur-unsur tersebut. Karena itu, IFEX dipandang bukan sekadar pameran tahunan, melainkan bagian dari upaya Indonesia menegaskan diri sebagai salah satu kekuatan baru dalam industri furnitur dunia.