BERITA TERKINI
IHSG Dibuka Melemah 1,6% pada Senin Pagi, LQ45 Tertekan di Tengah Sentimen Negatif

IHSG Dibuka Melemah 1,6% pada Senin Pagi, LQ45 Tertekan di Tengah Sentimen Negatif

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pada Senin pagi dengan penurunan 1,6 persen. Tekanan jual terjadi saat pergerakan pasar kompak berada di zona merah, mencerminkan sentimen negatif yang membayangi pelaku pasar baik di dalam negeri maupun global.

Koreksi pada awal pekan ini turut menekan berbagai sektor, terutama saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45. Kondisi tersebut kembali menegaskan bahwa volatilitas masih menjadi bagian dari dinamika investasi saham.

Di tengah pelemahan indeks, investor kerap memanfaatkan momentum untuk meninjau ulang portofolio berdasarkan fundamental perusahaan. Salah satu indikator yang umum digunakan untuk membaca valuasi adalah Price to Earning Ratio (PER), yang menggambarkan seberapa besar harga yang dibayar investor untuk setiap rupiah laba perusahaan. Saat pasar terkoreksi, saham dengan PER rendah sering dipandang memiliki valuasi yang lebih masuk akal, meski tetap memerlukan kajian menyeluruh.

Berikut perbandingan 10 saham dalam indeks LQ45 dengan PER terendah dan tertinggi per 30 Januari 2026:

PER terendah:
ADRO 4,2x
PTBA 5,1x
ITMG 5,8x
INDY 6,2x
BBNI 7,4x

PER tertinggi:
GOTO 85,2x
EMTK 72,5x
BUKA 68,4x
MDKA 55,9x
TLKM 42,1x

Data tersebut menunjukkan perbedaan valuasi yang lebar, dengan saham-saham sektor komoditas cenderung berada pada PER rendah, sementara sektor teknologi atau infrastruktur digital berada pada PER tinggi. Perbedaan ini umumnya dipengaruhi ekspektasi pertumbuhan laba di masa depan serta karakteristik industri masing-masing emiten.

Dalam menghadapi koreksi pasar, keputusan investasi dinilai lebih tepat jika didasarkan pada analisis, bukan kepanikan. Sejumlah langkah yang kerap dipertimbangkan investor untuk menjaga portofolio di tengah kondisi yang tidak menentu antara lain mengevaluasi ulang kepemilikan saham berdasarkan fundamental, melakukan diversifikasi lintas sektor, serta memprioritaskan saham dengan kinerja keuangan yang solid seperti arus kas positif dan utang yang terkendali.

Selain itu, strategi dollar cost averaging—membeli saham secara rutin dalam jumlah tetap tanpa bergantung pada fluktuasi harian—sering digunakan untuk menurunkan harga rata-rata perolehan dalam jangka panjang. Menyediakan dana cadangan dalam bentuk kas juga kerap dianggap penting untuk menjaga fleksibilitas saat peluang muncul ketika harga terkoreksi.

Penurunan IHSG pada sesi pagi ini disebut tidak terjadi tanpa faktor pendorong. Sejumlah kondisi yang kerap memicu aksi jual di pasar modal antara lain kebijakan suku bunga bank sentral yang agresif, ketidakpastian geopolitik yang berdampak pada harga komoditas energi, laporan kinerja keuangan emiten yang berada di bawah ekspektasi, sentimen negatif dari bursa regional Asia yang turut melemah, serta aksi ambil untung investor institusi setelah kenaikan indeks dalam beberapa pekan terakhir.

Memahami latar belakang koreksi dapat membantu investor tetap objektif dalam mengambil keputusan. Meski demikian, pergerakan pasar bersifat dinamis dan perubahan harga pada hari tertentu tidak selalu mencerminkan nilai jangka panjang suatu perusahaan. Bagi investor berorientasi jangka panjang, koreksi kerap dipandang sebagai ujian disiplin sekaligus momen untuk menilai kembali kualitas aset yang dimiliki, dengan tetap mengedepankan kehati-hatian dan analisis yang terukur.