Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak volatil dan cenderung melemah pada pekan depan di tengah ketidakpastian global yang dinilai tetap tinggi. Analis pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pergerakan IHSG berpotensi berada dalam pola sideways dengan tekanan yang masih terasa.
Hendra mengatakan, jika konflik di Timur Tengah kembali memanas dan harga minyak naik, IHSG berpeluang menguji level support psikologis di 7.000, dengan resistance di kisaran 7.200. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi risiko bagi pasar saham secara umum, namun sekaligus membuka peluang bagi saham-saham berbasis komoditas untuk memimpin pergerakan pasar.
Dalam situasi saat ini, Hendra menyarankan strategi rotasi sektor ke saham energi, batu bara, dan logam untuk kebutuhan trading jangka pendek, sembari menunggu kepastian arah suku bunga global dan perkembangan geopolitik.
Ia juga menyebut sejumlah saham yang dinilai menarik untuk dicermati dalam jangka pendek. Di antaranya MEDC dengan strategi trading buy dan target harga di kisaran 1.910 hingga 2.000. Selain itu, ENRG direkomendasikan trading buy dengan target 1.690 hingga 1.790. Untuk PTBA, strategi yang disarankan adalah buy on weakness di area 3.000 hingga 3.040 dengan target 3.180 hingga 3.300. Adapun MDKA disebut sebagai speculative buy dengan target 3.340 hingga 3.540.
Hendra menilai saham-saham tersebut berpotensi bergerak positif selama harga minyak dan komoditas bertahan di level tinggi serta selama konflik geopolitik belum mereda.
IHSG pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, ditutup melemah 0,94 persen atau turun 67 poin ke level 7.097. Hendra memandang pelemahan tersebut mencerminkan pasar yang masih berada dalam fase ketidakpastian global.
Ia menyoroti memanasnya konflik Timur Tengah serta kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang disebut kembali meningkatkan tensi geopolitik. Meski sempat ada penundaan serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari, Hendra menyebut pasar tetap mengkhawatirkan potensi eskalasi konflik yang dapat mengganggu jalur distribusi energi dunia.
Selain faktor geopolitik, Hendra juga menyinggung aksi demonstrasi besar bertajuk “No Kings” di berbagai kota di Amerika Serikat yang dinilai menunjukkan meningkatnya ketidakpastian politik domestik di negara tersebut. Kombinasi risiko geopolitik dan ketidakpastian politik itu, menurutnya, menjadi salah satu faktor yang menekan bursa saham global, termasuk IHSG.
Tekanan pasar juga disebut berkaitan dengan kenaikan harga minyak dunia yang kembali mendekati USD100 per barel. Hendra menilai kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global meningkat, sehingga pasar memperkirakan suku bunga global berpotensi bertahan tinggi lebih lama. Dalam kondisi suku bunga tinggi yang berkepanjangan, ia mengatakan aliran dana global cenderung masuk ke obligasi dan keluar dari pasar saham, sehingga pergerakan IHSG dan bursa global wajar jika melemah dan volatil dalam jangka pendek.