Dua perusahaan sekuritas memproyeksikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan pada awal pekan perdagangan Senin, 30 Maret 2026. Secara teknikal, indeks dinilai masih berada dalam tren menurun di tengah dominasi tekanan jual dan arus keluar dana asing.
Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyampaikan IHSG masih berada dalam fase koreksi teknikal. Menurutnya, indeks masih berisiko melanjutkan pelemahan menuju area 6.745–6.887 apabila tekanan jual belum mereda dalam jangka pendek. Ia juga menilai struktur pergerakan IHSG masih berada dalam fase korektif berdasarkan pendekatan gelombang.
Meski demikian, Herditya menyebut peluang penguatan tetap terbuka dalam skenario alternatif. Jika fase koreksi dinilai telah selesai, IHSG berpeluang menguat ke kisaran 7.450–7.779.
Dari sisi level teknikal, MNC Sekuritas menempatkan area support IHSG pada kisaran 6.900–7.000, sementara resistance terdekat berada di rentang 7.100–7.300.
Tekanan pada IHSG juga tercermin dari perdagangan pekan sebelumnya. IHSG tercatat turun 0,94% ke level 7.097, dengan arus keluar dana asing mencapai Rp1,9 triliun dalam satu hari perdagangan. Secara mingguan, net foreign sell tercatat sebesar Rp3,77 triliun, yang menunjukkan tekanan jual masih dominan di pasar saham domestik.
Sejalan dengan itu, Head of Research Department BRI Danareksa Sekuritas, Chory Agung Ramdhani, menilai struktur IHSG masih berada dalam tren turun dengan pola lower high dan lower low. Pola ini, menurutnya, mencerminkan tekanan jual yang masih berlangsung dalam jangka pendek, sementara pelaku pasar cenderung menahan posisi.
Chory menyebut pasar masih berada dalam kondisi wait and see karena ketidakpastian global dinilai belum mereda. Dari sisi sentimen, tekanan terhadap IHSG disebut dipengaruhi faktor global, termasuk eskalasi konflik geopolitik yang masih berlangsung. Selain itu, ekspektasi inflasi domestik juga menjadi perhatian pelaku pasar.
BRI Danareksa mencatat inflasi Indonesia diperkirakan berada di kisaran 5–5,4% secara tahunan. Perkiraan ini dinilai berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter dan sentimen di pasar keuangan.
Sementara itu, pergerakan sektoral menunjukkan rotasi yang tidak merata. Dalam sepekan terakhir, sektor energi mencatat kenaikan 2,45% dan sektor transportasi naik 5,78%. Di sisi lain, sektor basic industry turun 2,84% dan sektor siklikal melemah 1,11%, mencerminkan dinamika pasar yang masih berfluktuasi di tengah tekanan eksternal.