Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan. IHSG turun 0,94 persen atau 67 poin ke level 7.097, setelah bergerak di zona merah sepanjang sesi.
Dalam perdagangan hari ini, IHSG sempat menyentuh level terendah di 7.070. Secara keseluruhan, 379 saham tercatat melemah, 274 saham menguat, dan 167 saham stagnan.
Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai sentimen negatif masih dipengaruhi ketidakpastian terkait perundingan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan perang. Menurut mereka, pernyataan yang saling bertentangan dari kedua pihak meningkatkan ketidakpastian.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dan gas alam turut menjadi tekanan bagi pasar. Phintraco menyebut kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan serta dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi ikut membebani pergerakan saham.
Dari sisi sektoral, saham sektor infrastruktur mencatat koreksi terbesar sebesar 1,29 persen. Sementara itu, sektor energi menjadi yang paling kuat dengan kenaikan 0,35 persen.
Sentimen domestik juga dipengaruhi rilis data jumlah uang beredar (M2) oleh Bank Indonesia. Pada Februari 2026, M2 tumbuh 8,7 persen, melambat dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 10 persen. Phintraco menambahkan, pertumbuhan penyaluran kredit turut berkontribusi terhadap kenaikan M2, meski pada Februari 2026 penyaluran kredit tercatat 8,9 persen, melambat dari Januari 2026 sebesar 10,2 persen.
Untuk pekan depan, Phintraco menyebut pelaku pasar menantikan sejumlah data ekonomi domestik terbaru, antara lain rilis indeks S&P Global Manufacturing (PMI), data neraca perdagangan Februari 2026, serta inflasi Maret 2026.
Adapun volume perdagangan hari ini tercatat 19,80 miliar lembar saham dengan frekuensi 1,39 juta kali transaksi. Total nilai transaksi mencapai Rp11,77 triliun, sementara kapitalisasi pasar hingga akhir pekan ini tercatat Rp12.542 triliun.
Pelemahan IHSG juga disertai aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp1,89 triliun. Saham yang paling banyak dijual di antaranya BBCA, BBRI, BBNI, BMRI, dan DEWA.