Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Jumat siang (27/3), turun 63,089 poin atau 0,88% ke level 7.101,002. Pelemahan terjadi setelah IHSG sempat dibuka menguat hingga 7.311,976.
Pergerakan IHSG tertekan untuk hari kedua, sejalan dengan sentimen bursa regional Asia yang cenderung bergerak mixed dengan bias melemah. Pasar turut mencermati ketidakpastian perkembangan negosiasi perang Iran. Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan memperpanjang penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari lagi. Investor juga memantau Wall Street yang bergerak volatil dan ditutup melemah.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 0,37% atau 62 poin ke Rp 16.952. Rupiah melemah dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.890, serta terkoreksi setelah berada di area terkuat sekitar dua pekan terakhir. Sementara itu, dolar AS di pasar uang Asia terpantau melandai setelah menguat tiga hari pada sesi global sebelumnya, di tengah surutnya harapan gencatan senjata perang Iran yang mendorong permintaan dolar sebagai aset safe haven.
Pada awal perdagangan, IHSG turun 40,920 poin atau 0,57% ke level 7.123,171. Indeks LQ45 saat itu melemah 0,420 poin atau 0,06% ke level 746,870. Memasuki siang hari, LQ45 tercatat turun 1,41% atau 10,330 poin ke level 721,400.
Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 230 saham menguat, 385 saham melemah, dan 195 saham bergerak stagnan.
Di kawasan Asia, pergerakan bursa siang ini bervariasi, dengan Nikkei turun 0,09% dan Hang Seng naik 0,55%.
Vibiz Research Center menilai IHSG masih berada dalam fase koreksi untuk hari kedua, mengikuti pelemahan bursa Asia yang dipimpin Kospi di tengah ketidakpastian negosiasi perang Iran serta dampak volatilitas Wall Street. Secara teknikal, resistance mingguan disebut berada di level 7.765 dan 8.098, sementara support berada di 6.907 dan 6.838 apabila tekanan jual berlanjut.