BERITA TERKINI
IHSG Menguat 0,71% di Sesi Pertama, Sektor Energi Jadi Satu-satunya yang Melemah

IHSG Menguat 0,71% di Sesi Pertama, Sektor Energi Jadi Satu-satunya yang Melemah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi pertama Selasa, 10 Maret 2026, di zona hijau. IHSG naik 52 poin atau 0,71% ke level 7.389, setelah bergerak dalam rentang intraday 7.372 hingga 7.499.

Sepanjang paruh pertama perdagangan, indeks cenderung stabil di area positif. Tercatat 460 saham menguat, 244 saham melemah, dan 254 saham tidak berubah.

Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) berlangsung cukup aktif. Frekuensi transaksi mencapai sekitar 1,22 juta kali dengan nilai transaksi Rp10,58 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat sekitar Rp13,23 triliun.

Dari sisi sektoral, mayoritas indeks menguat. Sektor bahan baku memimpin kenaikan dengan naik 3,08% ke level 2.146, disusul sektor industri yang meningkat 2,49% ke level 1.845 dan sektor konsumer primer yang naik 1,47% ke level 1.011.

Penguatan juga terlihat pada sektor transportasi yang naik 1,15% ke level 1.794 serta sektor properti yang menguat 1,11% ke posisi 946. Sektor kesehatan bertambah 0,45% menjadi 1.819, sementara konsumer non primer naik 0,42% ke level 707.

Sektor teknologi dan keuangan turut bergerak positif meski terbatas. Indeks teknologi naik 0,27% menjadi 7.753, sektor keuangan menguat 0,47% ke level 1.387, sedangkan sektor infrastruktur naik tipis 0,09% ke level 1.971.

Di tengah penguatan mayoritas sektor, energi menjadi satu-satunya sektor yang berada di zona merah. Indeks sektor energi turun 0,16% ke level 3.792.

Di kelompok saham Kompas100, sejumlah emiten mencatat kenaikan signifikan. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) memimpin penguatan dengan naik 14,39% ke level 755. PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) menguat 9,40% menjadi 640, sementara PT Timah Tbk (TINS) naik 9,36% ke level 3.740.

Adapun saham yang tertekan antara lain PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang turun 6,34% ke level 1.920. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) melemah 5,45% menjadi 1.300, sedangkan PT Elnusa Tbk (ELSA) terkoreksi 4,76% ke level 800.

Penguatan di pasar domestik terjadi seiring mayoritas bursa Asia yang juga menguat. Indeks saham Asia bergerak naik setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut konflik di Timur Tengah berpotensi segera berakhir, di tengah pelemahan harga minyak global.

Indeks MSCI Asia di luar Jepang naik sekitar 2,6%, sehingga mengurangi sebagian tekanan yang terjadi sejak awal konflik di kawasan tersebut. Di Jepang, Nikkei 225 naik 2,31% dan Topix menguat 2,00%.

Di China, indeks Shanghai naik 0,39% dan Shenzhen Composite meningkat 1,57%, sementara CSI 300 yang merepresentasikan saham berkapitalisasi besar naik 1,09%. Bursa Hong Kong melalui Hang Seng menguat 1,56%.

Di Korea Selatan, Kospi mencatat salah satu kenaikan tertinggi di kawasan dengan lonjakan 4,69%. Pasar Taiwan melalui Taiex naik 1,81%, sedangkan Australia lewat ASX 200 bertambah 0,93%.

Meski sentimen pasar sempat membaik, dinamika geopolitik disebut belum sepenuhnya mereda. Analis pasar di IG Sydney, Tony Sycamore, menilai pelunakan retorika pemerintah Amerika Serikat membantu menenangkan sentimen dalam jangka pendek.

“Meskipun semua ini telah membantu meredakan kepanikan jangka pendek, sulit untuk menyelaraskan gagasan bahwa konflik tersebut benar-benar telah selesai sepenuhnya,” kata Sycamore.

Ia menambahkan, perubahan nada komunikasi dari sebelumnya menuntut penyerahan penuh hingga menyebut misi telah “sangat lengkap” dipandang sebagai perkembangan yang meredakan ketegangan pasar setidaknya dalam sesi perdagangan Asia.

Di sisi lain, militer Iran disebut memperingatkan akan meningkatkan serangan rudal sebagai respons terhadap perkembangan konflik. Trump juga menyatakan Amerika Serikat akan memberikan respons keras apabila Iran melakukan tindakan yang mengganggu aliran minyak di Selat Hormuz.

Di pasar obligasi global, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun turun sekitar 2,3 basis poin menjadi 4,109%. Penurunan terjadi setelah lonjakan harga minyak sebelumnya memicu kekhawatiran terkait tekanan inflasi.

Pergerakan tersebut turut memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter AS. Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar memperkirakan penurunan suku bunga Federal Reserve baru akan terjadi pada Juli.

Analis ING menilai tingkat imbal hasil saat ini masih relatif tinggi dan tetap menjadi perhatian pelaku pasar. Menurut mereka, penurunan imbal hasil dalam jangka pendek dapat terjadi akibat pembalikan posisi perdagangan sebelumnya, meski pasar belum melihat peluang reli struktural yang kuat pada pasar obligasi.

Di pasar mata uang Asia, pergerakan terhadap dolar AS bervariasi. Yen Jepang melemah 0,08% ke posisi 157,79 per dolar AS, sementara dolar Singapura turun tipis 0,06% ke level 1,2754 per dolar AS. Dolar Australia melemah 0,21% ke posisi 0,7061 per dolar AS.

Di sisi lain, rupiah Indonesia menguat 0,38% ke level 16.885 per dolar AS. Sejumlah mata uang Asia lain juga menguat, termasuk rupee India yang naik 0,16% ke posisi 92,1788 per dolar AS, yuan China menguat 0,29% ke level 6,8867 per dolar AS, serta ringgit Malaysia naik 0,75% ke posisi 3,9325 per dolar AS.