Gejolak pasar saham domestik dalam beberapa waktu terakhir kembali menyorot pentingnya peran investor institusi lokal. Di tengah arus modal global yang berbalik arah dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik, pasar dinilai semakin bergantung pada dana domestik untuk menjaga stabilitas pergerakan indeks.
Tekanan pasar tercermin dari koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada awal pekan ini, IHSG tercatat turun 21,99% dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level 9.174 pada awal Januari 2026 menjadi sekitar 7.321. Dalam beberapa periode perdagangan terakhir, investor asing juga masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) di pasar saham domestik.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak awal tahun (year to date/YTD) investor asing membukukan net sell sekitar Rp 8,8 triliun. Seiring itu, kapitalisasi pasar turut menyusut. Pada pekan pertama Maret, kapitalisasi pasar tercatat turun sekitar Rp 1.160 triliun dari Rp 14.787 triliun pada akhir Februari menjadi Rp 13.627 triliun.
Dalam kondisi indeks melemah dan dana asing keluar, pelaku pasar menilai peran investor institusi domestik menjadi krusial sebagai penopang likuiditas. Kehadiran investor domestik berskala besar dipandang dapat membantu menjaga kedalaman pasar sekaligus meredam volatilitas ketika arus modal global berbalik.
Harapan tersebut sempat mengarah pada Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang sebelumnya menyatakan siap berperan aktif di pasar modal, termasuk membuka opsi menjadi penyedia likuiditas (liquidity provider/LP) saat indeks tertekan. Namun, hingga kini jejak investasi Danantara di bursa dinilai belum terlihat signifikan.
Data kepemilikan saham di atas 1% yang dirilis Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan Danantara melalui Danantara Asset Management (DAM) sejauh ini justru terkonsentrasi pada sejumlah emiten pelat merah. Sejumlah emiten BUMN yang masuk portofolio DAM juga disebut berada dalam kondisi kinerja yang tertekan.
Merujuk data KSEI, DAM menggenggam saham di berbagai sektor seperti penerbangan, konstruksi, dan industri dasar. Namun, komposisi kepemilikan saham di atas 1% memperlihatkan eksposur yang relatif sempit dan terkonsentrasi pada emiten pelat merah yang kinerjanya dinilai kurang menarik dalam beberapa tahun terakhir. Dari perspektif stabilitas pasar, portofolio seperti ini dinilai belum tentu memberi dampak besar terhadap pergerakan indeks.
Sorotan juga muncul karena saham-saham dalam portofolio tersebut bukan termasuk emiten berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penggerak utama IHSG. Dalam struktur indeks, pergerakan pasar umumnya lebih banyak dipengaruhi saham perbankan besar, energi, dan telekomunikasi yang memiliki kapitalisasi besar serta likuiditas transaksi tinggi. Kondisi ini memunculkan pertanyaan sejauh mana kehadiran Danantara benar-benar berfungsi sebagai penopang likuiditas pasar saham.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan lembaga investasi tersebut sebenarnya sudah mulai masuk ke pasar modal, namun dilakukan secara bertahap. Ia juga menyebut keterlibatan Danantara tidak selalu dilakukan secara langsung, melainkan melalui pihak ketiga.
“Untuk tahun ini semua aktivitas kita melalui third party fund managers yang sudah dipilih melalui track record yang baik, service yang baik, dan memiliki institutional capacity yang baik (termasuk strong back office),” ujar Pandu seperti dikutip Rabu (11/3).
Pandu menyebut Danantara sudah masuk ke pasar modal sejak akhir tahun lalu. Menurutnya, aktivitas investasi dilakukan secara tidak mencolok agar tidak memengaruhi pergerakan saham tertentu. Ia mengatakan sasaran investasi adalah emiten dengan fundamental kuat, valuasi menarik, dan likuiditas baik, namun tidak merinci saham yang dibeli maupun nilai investasi yang telah ditempatkan.
Investment Specialist KISI Sekuritas Ahmad Faris Mu'tashim menilai langkah Danantara masuk melalui pihak ketiga sangat dimungkinkan mengingat perannya sebagai sovereign fund. Pendekatan tersebut membuat nama Danantara tidak selalu muncul dalam laporan kepemilikan saham di atas 1%. Meski demikian, ia menilai transparansi strategi investasi tetap menjadi sorotan karena publik belum melihat laporan portofolio yang jelas.
Rencana menjadi liquidity provider
Salah satu rencana yang banyak disorot adalah opsi Danantara menjadi liquidity provider di pasar saham. Peran ini umumnya dilakukan institusi yang aktif melakukan transaksi jual beli untuk menjaga likuiditas perdagangan saham tertentu. Pandu sempat menyebut opsi tersebut sedang didiskusikan, khususnya untuk menempatkan dana dari dividen yang diterima Danantara.
Namun, otoritas bursa menyatakan belum melihat aktivitas tersebut secara nyata. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, sebelumnya menyebut BEI masih menunggu realisasi investasi dari Danantara.
Dari sisi regulasi, peran sebagai liquidity provider tidak mudah dilakukan secara langsung. Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan terdapat perbedaan pengertian liquidity provider dalam aturan resmi dengan konsep yang disampaikan Danantara.
“Kami harapkan aktifnya nanti Danantara, ya tidak harus menjadi liquidity provider yang berizin dan formal, tetapi aktif di pasar, mendukung pasar itu sudah sangat baik,” kata Jeffrey.
Jeffrey menyebut Danantara tidak harus menjadi liquidity provider secara langsung untuk terlibat di pasar modal, dan dapat masuk melalui anak usaha.
Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menambahkan, aktivitas liquidity provider tidak selalu tercermin dalam laporan kepemilikan karena transaksi berlangsung cepat dan bersifat sementara.
“LP tidak perlu memiliki saham dalam persentase besar, ia berperan melalui aktivitas membeli dan menjual saham dengan cepat, sehingga menstimulus likuiditas pasar,” ujarnya.
Namun Wijayanto menilai peran tersebut cenderung efektif ketika pasar dalam kondisi normal. Saat volatilitas tinggi dan sentimen negatif mendominasi, intervensi liquidity provider dinilai kurang efektif karena tekanan jual lebih besar dibanding minat beli. Ia juga menyampaikan, jika Danantara bertindak sebagai financial investor, SWF Indonesia tersebut dapat fokus pada saham blue chip yang sedang undervalue. Sementara bila berperan sebagai strategic investor, investasi semestinya diarahkan pada sektor strategis yang terkait dengan ekosistem bisnisnya.
“Jika membeli saham sebagai liquidity provider, tidak perlu terlalu memilih, umumnya LP efektif jika membeli saham market cap kecil,” kata Wijayanto.
Meski demikian, hingga kini aktivitas investasi Danantara di pasar saham masih sulit dilacak secara jelas dari data kepemilikan maupun pola transaksi di bursa. Kondisi ini membuat peran stabilisasi yang dijanjikan berpotensi hanya menjadi sinyal psikologis bagi pasar.
Dipertanyakan dampaknya terhadap stabilitas
Keterbatasan jejak investasi tersebut memicu pertanyaan dari sejumlah ekonom mengenai sejauh mana Danantara benar-benar berperan sebagai penopang stabilitas pasar. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai, jika intervensi hanya terkonsentrasi pada BUMN yang kinerjanya lemah, dampaknya terhadap stabilitas pasar akan terbatas.
Menurut Syafruddin, pasar membutuhkan likuiditas pada saham berkapitalisasi besar yang menjadi penggerak indeks dan acuan investor global. Tanpa langkah itu, intervensi pasar dapat terlihat lebih sebagai upaya menyelamatkan perusahaan tertentu ketimbang memperkuat pasar modal secara keseluruhan.
“Ketika dana publik justru masuk pada emiten yang merugi, pasar akan membaca langkah tersebut sebagai upaya menopang perusahaan tertentu, bukan memperkuat kedalaman pasar,” ujar Syafruddin.
Ia menilai investor biasanya melihat peran penyedia likuiditas dari kemampuan meredam volatilitas indeks dan menjaga kepercayaan pasar secara luas. Bila intervensi hanya terjadi pada segmen sempit, efeknya dinilai lebih menyerupai penyelamatan korporasi ketimbang penguatan pasar.
Syafruddin juga menilai Danantara perlu mengambil pendekatan investasi yang lebih luas dan strategis agar benar-benar berfungsi sebagai penyangga pasar, termasuk masuk ke saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan, energi, telekomunikasi, dan komoditas yang memiliki fundamental kuat. Selain itu, ia menekankan pentingnya strategi investasi berbasis portofolio yang profesional, transparan, dan berorientasi jangka panjang.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira juga menilai langkah Danantara sejauh ini lebih banyak memberi efek psikologis ketimbang intervensi nyata.
“Danantara ternyata bermain sangat aman, play safe tidak mau ambil risiko ketika market turun. Akhirnya Danantara berfungsi sebagai signaling effect saja, untuk menenangkan pasar tapi tidak terbukti,” kata Bhima.
Bhima menilai jika situasi berlanjut, investor dapat kehilangan kepercayaan terhadap sinyal stabilisasi yang disampaikan pemerintah. Ia juga menyebut Danantara seharusnya membantu perusahaan yang akan melakukan penawaran saham perdana (IPO) agar dukungan tidak hanya terlihat di pasar sekunder.
Di tengah sorotan tersebut, Pandu menyatakan Danantara berkeyakinan untuk terus memberi dukungan karena Bursa Indonesia dinilai memiliki prospek yang baik. Ia mengatakan Danantara ingin mendorong pendalaman pasar, meningkatkan likuiditas, memperkuat transparansi, serta memperbanyak partisipasi investor institusi.
Dalam dinamika pasar yang bergejolak, Danantara memegang posisi strategis sebagai pengelola aset negara. Namun, tanpa transparansi strategi dan langkah investasi yang lebih luas, janji untuk menjadi penopang pasar modal berisiko dinilai sebatas narasi. Pada akhirnya, pasar akan menilai Danantara bukan dari pernyataan, melainkan dari jejak investasi yang benar-benar terlihat di bursa.

