Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 6,33% dalam sepekan dan sempat menyentuh level 7.156,68. Posisi tersebut menjadi titik terendah IHSG secara year-to-date (ytd).
Tekanan terhadap pasar saham dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati isu bobot pasar saham Indonesia dalam indeks MSCI serta risiko kredit yang disorot lembaga pemeringkat asing.
Menanggapi kondisi itu, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menegaskan sistem infrastruktur dan regulasi bursa domestik dinilai siap menghadapi dinamika dan volatilitas pasar yang terjadi.
Jeffrey menyebut tekanan pasar saat ini tidak sedalam kondisi pada April 2025 yang dipicu kebijakan Amerika Serikat (AS) yang tidak dapat diantisipasi publik. “Pada saat itu apa yang kita alami lebih buruk dalam konteks pasar daripada hari ini. Oleh karena itu sistem infrastruktur dan peraturan di bursa kita sudah siap untuk menghadapi dinamika pasar yang sedang ada,” kata Jeffrey, dikutip Senin, 10 Maret 2026.
Pada pembukaan perdagangan Senin (10/3) pukul 09.00 WIB, IHSG tercatat rebound ke level 7.460,73 dari posisi sebelumnya 7.337,36, atau menguat 1,68%.
Pergerakan pasar didominasi penguatan saham. Sebanyak 379 saham menguat, 83 saham melemah, dan 159 saham lainnya stagnan.
Dari sisi aliran dana, investor asing pada perdagangan Senin (9/3) mencatatkan beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp749,85 miliar. Namun, secara ytd, arus dana asing masih mencatatkan keluar bersih (outflow) sebesar Rp20,39 triliun.

