Bursa Efek Indonesia (BEI) memasuki fase penting menjelang berakhirnya masa jabatan direksi periode 2022–2026. Pejabat sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan akan kembali maju sebagai kandidat dalam pemilihan direksi mendatang.
Jeffrey menegaskan komitmennya melanjutkan berbagai program strategis yang telah berjalan, termasuk target membawa BEI menjadi bursa kelas dunia. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kualitas pasar, terutama dalam mendorong perusahaan untuk melantai di bursa.
“Saya kira saat ini kita semua sudah sepakat bahwa kita akan mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas,” ujar Jeffrey kepada wartawan di Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Di tengah belum adanya pengumuman resmi, sejumlah nama yang disebut-sebut akan maju bersama Jeffrey turut beredar di pasar. Nama-nama tersebut antara lain Irvan Susandy, R. Haidir Musa, Irwan Abdalloh, hingga Atep Salyadi Dariah Saputra. Komposisi ini dinilai solid karena diisi figur yang memahami operasional bursa dari dalam.
Dari sisi regulator, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan hingga kini belum ada paket calon yang resmi diajukan. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan batas akhir pengajuan kandidat ditetapkan pada 4 Mei 2026.
“Belum ada yang secara resmi masuk ke OJK. Batas waktunya adalah 4 Mei 2026 untuk terakhir pengajuan paket calon,” ujarnya.
OJK juga menekankan bahwa pencalonan harus diajukan oleh kelompok yang terdiri dari minimal 10 anggota bursa, dengan kontribusi aktivitas perdagangan tertentu dalam 12 bulan terakhir. Setiap anggota bursa hanya dapat bergabung dalam satu kelompok pencalonan.
Tahapan berikutnya akan berjalan setelah BEI menyampaikan jadwal rapat umum pemegang saham (RUPS) kepada OJK. Pengangkatan direksi baru dijadwalkan berlangsung dalam RUPS Tahunan yang umumnya digelar pada Juni.
Mengacu pada regulasi, masa jabatan direksi berlangsung selama empat tahun dan dapat diperpanjang satu kali. Sejumlah direksi saat ini masih berpeluang maju kembali, termasuk Jeffrey Hendrik dan Irvan Susandy, sementara beberapa lainnya disebut telah mencapai batas maksimal masa jabatan.
Dinamika pemilihan direksi ini menjadi perhatian pelaku pasar karena kepemimpinan BEI ke depan dinilai akan memengaruhi arah pengembangan pasar modal Indonesia, mulai dari kualitas emiten, likuiditas perdagangan, hingga daya saing di tingkat global.