BERITA TERKINI
Jejak Panjang ExxonMobil di Indonesia dan Arah Pengembangan Terbaru Blok Cepu

Jejak Panjang ExxonMobil di Indonesia dan Arah Pengembangan Terbaru Blok Cepu

ExxonMobil mencatat sejarah panjang di Indonesia. Perusahaan migas yang berpusat di Irving, Texas, Amerika Serikat, ini disebut telah hadir sejak 1898 dan memulai kegiatan eksplorasi pada 1912. Dalam perkembangannya, ExxonMobil juga beroperasi melalui sejumlah entitas, termasuk PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (PT EMLI) yang didukung fasilitas produksi di beberapa lokasi di Indonesia.

Di tingkat global, ExxonMobil memasarkan tiga merek utama, yakni Exxon, Esso, dan Mobil, yang dikenal untuk produk pelumas serta bahan bakar.

Peran di Blok Cepu dan Struktur Kontrak

Di Indonesia, keterlibatan ExxonMobil yang menonjol terjadi di Blok Cepu. Untuk mengelola wilayah kerja tersebut, perusahaan membentuk Mobil Cepu Limited (MCL) pada 2005, yang kemudian berganti nama menjadi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) pada pertengahan Oktober 2014.

Kontrak Kerja Sama (KKS) Blok Cepu ditandatangani pada 17 September 2005 dan mencakup wilayah kontrak di Jawa Tengah serta Jawa Timur. Para kontraktor dalam KKS ini meliputi EMCL, Ampolex Cepu Pte Ltd., PT Pertamina EP Cepu, serta empat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD): PT Sarana Patra Hulu Cepu (Jawa Tengah), PT Asri Dharma Sejahtera (Bojonegoro), PT Blora Patragas Hulu (Blora), dan PT Petrogas Jatim Utama Cendana (Jawa Timur) yang tergabung dalam badan kerja sama (BKS) Blok Cepu.

Komposisi participating interest Blok Cepu terdiri atas 45% ExxonMobil, 45% Pertamina, dan 10% BUMD melalui BKS. KKS ini disebut akan berlangsung hingga 2035. Dalam perjanjian operasi bersama (JOA), ExxonMobil berperan sebagai operator mewakili para kontraktor.

Pengembangan Awal Lapangan Banyu Urip

Proyek Banyu Urip menjadi pengembangan awal di Wilayah Kontrak Cepu, dengan perkiraan cadangan minyak sebesar 450 juta barel yang diumumkan pada April 2001. Pada produksi puncaknya, Banyu Urip disebut mampu memproduksi 165.000 barel minyak per hari.

Produksi awal lapangan Banyu Urip dimulai pada Desember 2008 melalui Fasilitas Produksi Awal (Early Production Facility/EPF). Fasilitas ini mulai berproduksi dengan kapasitas 20.000 barel minyak per hari pada Agustus 2009.

Pengembangan penuh lapangan Banyu Urip meliputi Fasilitas Pengolahan Pusat (Central Processing Facility/CPF), jalur pipa darat dan lepas pantai, serta fasilitas penyimpanan dan alir-muat terapung (Floating Storage and Offloading/FSO). CPF Banyu Urip berada di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dan berfungsi memproses minyak mentah yang diproduksi.

Jalur pipa darat Blok Cepu untuk menyalurkan minyak mentah Banyu Urip berdiameter 20 inci dengan panjang 72 kilometer, serta pipa sepanjang 20 kilometer yang ditanam di dasar laut menuju FSO. Jalur pipa ini melewati puluhan desa di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban.

Temuan Tambahan dan Peningkatan Cadangan

Pada April 2011, EMCL menemukan tambahan cadangan minyak di lapangan Kedung Keris, yang disebut sebagai penemuan minyak kedua di Blok Cepu. Pengembangan sumur Kedung Keris dilakukan agar produksi dapat dialirkan melalui CPF Banyu Urip menuju FSO. Selain itu, EMCL juga disebut telah menemukan empat cadangan gas di Blok Cepu sejak dimulainya kegiatan eksplorasi pada 1999.

Cadangan minyak Blok Cepu dilaporkan terus meningkat dan hampir dua kali lipat dibanding angka awal yang diumumkan. Setelah penemuan awal 450 juta barel di Banyu Urip, pada awal Desember 2018 cadangan diumumkan meningkat seiring pembaruan data seismik reprocessing untuk memperbaiki gambaran bawah permukaan. Cadangan Lapangan Banyu Urip disebut bertambah dari 729 juta barel menjadi 823 juta barel.

Sementara itu, temuan di lapangan Kedung Keris (KDK) di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, disebut akan beroperasi penuh pada Kuartal III 2019 dengan proyeksi penambahan produksi 10 ribu barel per hari.

Produksi Menurun dan Rencana Investasi Baru

Dalam perkembangan terbaru, ExxonMobil bersama para pemegang saham disebut akan menambah investasi untuk mengembangkan Lapangan Banyu Urip guna mendongkrak produksi minyak yang menurun sejak 2021.

Berdasarkan data SKK Migas yang dikutip dalam materi tersebut, lifting Blok Cepu pada 2020 tercatat 217.617 barel per hari (bph), lalu turun menjadi 203.525 bph pada 2021, di bawah target 219.000 bph.

Untuk 2022, lifting yang dipasang EMCL disebut 170.711 bph, lebih rendah dari target APBN sebesar 182.000 bph. Angka 170.711 bph itu juga disebut sebagai perhitungan teknis sesuai work program and budget (WP&B) 2022.

Untuk mendorong produksi seiring peningkatan cadangan minyak di Blok Cepu, direncanakan pengeboran tujuh sumur baru yang dimulai pada 2023. Total investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai USD 150 atau setara Rp2,128 triliun. Investasi ini disebut mulai dibayarkan oleh BUMD yang tergabung dalam BKS Blok Cepu sesuai porsi kepemilikan saham pada periode 2022 hingga 2025. Secara teknis, pengeboran tujuh sumur pengembangan tersebut diproyeksikan menambah produksi minyak 42 juta barel.

Garis Waktu Sejarah ExxonMobil di Indonesia (1898–2022)

  • 1898: Kantor pemasaran dibuka di Indonesia
  • 1912: Dimulainya kegiatan eksplorasi
  • 1968: Menjadi kontraktor KKS di Provinsi Aceh
  • 1971: Penemuan Lapangan Arun di Aceh
  • 1973: Penandatanganan kontrak LNG pertama dengan Jepang
  • 1980: Penandatanganan KKS untuk Natuna D-Alpha
  • 1983: Penandatanganan kontrak LNG dengan Korea Selatan
  • 1993: Mobil mendirikan kantor penjualan di Indonesia
  • 1996: Esso mendirikan kantor penjualan di Indonesia
  • 1997: Pengiriman kargo ke-3.000 dari Lapangan Arun
  • 1998: Perayaan 100 tahun di Indonesia
  • 1999: Exxon dan Mobil bergabung menjadi Exxon Mobil Corporation
  • 2000: Operator Technical Assistance Contract (TAC) di Blok Cepu
  • 2001: Penemuan cadangan 450 juta barel di Banyu Urip, Blok Cepu
  • 2003: Pendirian PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (PT EMLI)
  • 2005: Penandatanganan KKS Blok Cepu; ExxonMobil ditetapkan sebagai operator
  • 2006: Pengiriman kargo ke-4.000 dari Lapangan Gas Arun
  • 2008–2009: Produksi awal Banyu Urip melalui EPF; kapasitas 20.000 barel per hari pada 2009
  • 2011: Lima kontrak EPC diberikan; dimulainya pengerjaan pengembangan penuh Proyek Banyu Urip
  • 2015 (Oktober): Pengalihan hak penyertaan KKS Blok NSO dan Blok B Aceh kepada Pertamina
  • 2015 (Desember): Dimulainya produksi minyak di CPF
  • 2016: Produksi POD sebesar 165.000 barel minyak per hari dari Lapangan Banyu Urip
  • 2022: 124 tahun ExxonMobil di Indonesia