Jakarta — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mengingatkan pelaku dunia usaha agar memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Anindya, yang akrab disapa Anin, menilai dunia usaha perlu meningkatkan kesiapsiagaan karena konflik tersebut berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan awal. “Perang di Timur Tengah ini bisa berlangsung lebih lama dari yang pertama kali kita prediksi. Jadi apakah itu 4–5 minggu mungkin sesuatu yang harus kita antisipasi,” ujarnya dalam keterangan, Rabu, 10 Maret 2026.
Dalam situasi tersebut, Anin menekankan tiga aspek yang perlu dijaga, yakni ketahanan energi, ketahanan pangan, dan stabilitas nasional. Menurutnya, ketahanan energi menjadi prioritas karena gejolak geopolitik di Timur Tengah kerap berdampak langsung pada harga energi global, termasuk minyak dan gas.
“Ketahanan energi sangat penting. Pemerintah sudah melakukan analisis terkait harga BBM, LPG, dan LNG agar dampaknya tetap terkendali sampai ke masyarakat,” kata Anin.
Selain energi, ketahanan pangan dinilai menjadi isu strategis di tengah risiko gangguan rantai pasok global. Sementara stabilitas nasional disebut sebagai faktor fundamental agar aktivitas ekonomi tetap berjalan. “Yang kedua adalah ketahanan pangan. Dan yang ketiga adalah bagaimana menjaga kestabilan nasional,” tambahnya.
Dari sisi dunia usaha, Anin menilai penguatan pasar domestik menjadi langkah penting agar perekonomian tidak terlalu bergantung pada dinamika global. Ia menyebut sejumlah program pemerintah dapat berperan sebagai penggerak permintaan dalam negeri, salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dinilai berpotensi menciptakan pasar baru sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
Di saat yang sama, dunia usaha juga diminta membangun rantai pasok yang lebih tangguh untuk menjaga stabilitas harga bahan baku dan memastikan keberlanjutan produksi. “PR berikutnya adalah bagaimana menciptakan supply chain yang lebih resilient sehingga bisa menjaga harga bahan pasok tersebut,” ujarnya.
Kadin, lanjut Anin, tengah menyiapkan kajian khusus terkait dampak ekonomi program MBG yang disebut MBGnomics. Kajian itu tidak hanya menyoroti manfaat program dalam pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga potensi penciptaan lapangan kerja serta penguatan rantai pasok nasional.
Dalam isu ketahanan pangan, Anin menyambut baik capaian swasembada beras, namun menilai diperlukan langkah lanjutan untuk menjaga ketersediaan pangan strategis lainnya. Kadin juga berencana kembali menggelar Jakarta Food Security Summit (JFSS) pada Mei atau Juni mendatang untuk membahas strategi ketahanan pangan nasional serta peluang penguatan sektor agribisnis.
Selain itu, Kadin menilai keberlanjutan ekspor komoditas unggulan Indonesia, seperti minyak kelapa sawit, juga perlu dijaga mengingat permintaan global yang masih tinggi.
Di sektor keuangan, Anin menyebut kondisi likuiditas perbankan nasional masih relatif baik. Berdasarkan pengamatan Kadin, likuiditas di pasar antarbank berada di kisaran Rp160 triliun. Namun, pihaknya tetap memantau potensi kenaikan suku bunga yang dapat memengaruhi iklim investasi dan kegiatan usaha.
“Kita melihat memang likuiditas masih cukup baik di interbank 160 triliunan (rupiah). Tapi kita perhatikan apakah angka suku bunganya ada merah naik atau tidak. Karena ini juga suatu tolak ukur yang sangat penting,” kata Anin.
Untuk mendorong arus investasi, Kadin juga menyiapkan penyelenggaraan Kadin Investment Week pada Agustus 2026. Agenda tersebut diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor dan membuka peluang investasi baru di berbagai sektor strategis.
Anin menegaskan koordinasi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian global. Ia juga mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan lembaga investasi seperti Danantara, untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Yang paling penting, Indonesia Incorporated harus kompak, bersatu, dan berkoordinasi dengan pemerintah agar kita bisa melewati situasi ini,” ujarnya. Meski demikian, ia menekankan dunia usaha tetap menjaga sikap waspada sembari mempertahankan optimisme terhadap prospek ekonomi nasional. “Pada intinya, mood-nya tetap hati-hati, tapi mood-nya tetap kita optimistis untuk bisa bertahan, menjaga kestabilan dan di ujungnya tentu untuk pertumbuhan,” pungkasnya.

