BERITA TERKINI
Kadin Minta Pelaku Usaha Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Ekonomi Nasional

Kadin Minta Pelaku Usaha Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Ekonomi Nasional

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, meminta dunia usaha memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah. Ia mengatakan Kadin menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto terkait situasi geopolitik global dan potensi dampaknya terhadap perekonomian Indonesia.

Anindya menilai konflik di Timur Tengah berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan awal. “Kami catat perang di Timur Tengah ini bisa berlangsung mungkin lebih lama dari yang pertama kali kita prediksi. Jadi apakah itu 4-5 minggu mungkin suatu yang harus kita antisipasi,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Kadin Indonesia, Senin (9/3/2026).

Dalam kondisi tersebut, ia menekankan tiga aspek yang dinilai perlu dijaga, yakni ketahanan energi, ketahanan pangan, dan stabilitas nasional. Menurutnya, pemerintah telah menggelar rapat untuk menganalisis harga BBM, serta LPG dan LNG yang berdampak langsung kepada masyarakat.

Selain energi, Anindya menyebut ketahanan pangan menjadi isu strategis di tengah dinamika global. Ia juga menilai stabilitas merupakan faktor kunci sebelum ekonomi dapat kembali fokus pada pertumbuhan.

Dari sisi dunia usaha, Anindya menyampaikan sejumlah langkah strategis yang perlu dilakukan untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional. Salah satunya memperkuat pasar domestik. “Yang paling penting adalah bagaimana dunia usaha melakukan tiga hal. Yang pertama ialah bagaimana dunia usaha bisa terus meningkatkan kekuatan pasar,” katanya.

Ia menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat memberi dampak positif melalui terciptanya pasar baru yang didorong intervensi kebijakan pemerintah. Selain itu, dunia usaha dinilai perlu memperkuat rantai pasok agar lebih tangguh menghadapi tekanan global. “PR berikutnya ialah bagaimana menciptakan supply chain yang lebih resilient sehingga bisa menjaga tentunya harga dari bahan pasok tersebut,” ujarnya.

Terkait program MBG, Kadin disebut tengah menyiapkan kajian mengenai dampak ekonominya yang disebut sebagai MBGnomics. Anindya juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan ekspor komoditas unggulan Indonesia.

Kadin berencana kembali menggelar Jakarta Food Security Summit (JFSS) pada Mei atau Juni mendatang. Anindya mengatakan Kadin turut memberi perhatian pada keberlangsungan usaha anggota, termasuk pelaku UMKM dan pengusaha di daerah, serta stabilitas lapangan kerja.

“Oleh karenanya Kadin ini selalu melakukan konsolidasi ke dalam. Tadi (di Rapat Pengurus Harian Kadin Indonesia) ada beberapa hal (yang dibicarakan) selain daripada pangan, energi, kita bicara juga aspek finansial,” kata Anindya.

Selain agenda ketahanan pangan, Kadin juga menyiapkan Kadin Investment Week yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026 untuk mendorong peningkatan investasi. Anindya menegaskan koordinasi pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci menghadapi ketidakpastian global.

“Indonesia Incorporated itu kompak, bersatu dan juga berkoordinasi dengan pemerintah agar supaya kita bisa melewati ini semua. Bahkan ini kesempatan kita juga untuk melakukan perubahan mindset,” ujarnya.

Ia juga mendorong dunia usaha memperluas pasar ekspor dan memperkuat kolaborasi dengan Danantara serta lembaga investasi. Meski menghadapi berbagai tantangan global, Anindya mengatakan pelaku usaha perlu tetap optimistis dengan sikap kehati-hatian.

“Tapi pada intinya, mood-nya tetap hati-hati, tapi mood-nya tetap kita optimistis untuk bisa bertahan, menjaga kestabilan dan di ujungnya tentu untuk pertumbuhan,” katanya.