Pasar valuta asing pada Jumat, 3 Oktober 2025, dipenuhi rilis data ekonomi dan rangkaian pidato pejabat bank sentral yang berpotensi memicu pergerakan tajam. Fokus utama pelaku pasar tertuju pada indikator aktivitas sektor jasa—yang kerap disebut sebagai mesin pertumbuhan ekonomi modern—terutama pada sesi Eropa dan Amerika.
Di sisi lain, libur nasional China berlangsung sepanjang hari sehingga likuiditas pada pasangan mata uang terkait yuan (CNY/CNH) berpotensi menurun. Kondisi ini dapat membuat pergerakan harga pada sejumlah aset menjadi lebih sensitif, sementara arah pasar secara umum diperkirakan lebih banyak ditentukan oleh data Purchasing Managers’ Index (PMI) dari berbagai negara serta sinyal kebijakan dari The Fed, ECB, dan Bank of England (BoE).
Amerika Serikat: Ujian berat bagi dolar AS
Dolar AS menghadapi agenda padat berupa data dan pidato pejabat Federal Reserve. Perhatian utama mengarah pada S&P Global Services PMI (proyeksi 53,9) serta ISM Non-Manufacturing PMI (proyeksi 51,8). Angka di atas 50 menandakan ekspansi.
Jika ISM melampaui ekspektasi—terutama pada sub-komponen New Orders dan Employment—pasar dapat menilai ekonomi AS masih tangguh. Kondisi ini berpotensi memperkuat pandangan suku bunga tinggi bertahan lebih lama dan menopang penguatan dolar. Sebaliknya, hasil yang mengecewakan dapat menekan greenback.
Selain data, pasar juga mencermati komentar anggota FOMC Williams (17.05 WIB) dan Fed Goolsbee (01.30 WIB) untuk konfirmasi arah suku bunga. Sinyal bernada hawkish dinilai berpotensi mendukung dolar. Data tambahan berupa perubahan Factory Orders dan Durable Goods dijadwalkan rilis bersamaan pada 22.00 WIB untuk memberi gambaran lebih lanjut tentang kondisi manufaktur.
Zona Euro: Data PMI, PPI, dan komunikasi ECB
Euro menghadapi risiko dua arah dari kombinasi data ekonomi dan komunikasi European Central Bank (ECB). HCOB Composite PMI Zona Euro (proyeksi 51,2) menjadi tolok ukur kesehatan ekonomi kawasan. Konsistensi di atas 50 dipandang positif, namun pasar cenderung membutuhkan kenaikan yang lebih kuat untuk mendorong euro menguat lebih jauh.
Di sisi inflasi, Producer Price Index (PPI) tahunan (proyeksi -0,4%) yang masih negatif mengindikasikan tekanan harga di tingkat produsen tetap terkendali. Kondisi tersebut dapat memberi ruang bagi ECB untuk tidak tergesa menaikkan suku bunga, yang berpotensi membebani euro.
Pasar juga menunggu pidato Presiden ECB Christine Lagarde (16.40 WIB), Isabel Schnabel (20.50 WIB), serta Luis de Guindos (00.00 WIB). Pelaku pasar akan mencari petunjuk mengenai rencana suku bunga setelah sinyal jeda (pause) yang sebelumnya mengemuka.
Inggris: Pound bergantung pada data jasa dan pidato Bailey
Pergerakan pound sterling diperkirakan sangat dipengaruhi data dan terutama pidato pimpinan BoE. S&P Global/CIPS Services PMI Inggris (proyeksi 51,9) menjadi rilis yang paling diperhatikan. Angka yang kuat dapat menopang pound, sementara data lemah berpotensi memunculkan kembali pertanyaan soal ketahanan ekonomi.
Agenda utama bagi pound adalah pidato Gubernur BoE Andrew Bailey (20.20 WIB). BoE dinilai berada di posisi sulit antara inflasi yang membandel dan risiko resesi. Sinyal mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan atau pilihan untuk mempertahankannya berpotensi memicu pergerakan signifikan pada pasangan seperti GBP/USD dan EUR/GBP.
Jepang: Yen mencari arah dari data tenaga kerja dan Ueda
Yen diperkirakan bereaksi terhadap data domestik serta prospek kebijakan Bank of Japan (BOJ). Data rasio lowongan kerja terhadap pelamar dan tingkat pengangguran (06.30 WIB) akan memberikan gambaran ketatnya pasar tenaga kerja. Data yang kuat dinilai mendukung tesis normalisasi kebijakan BOJ dan dapat menguatkan yen.
Selain itu, au Jibun Bank Services PMI (07.30 WIB) dan terutama pidato Gubernur BOJ Kazuo Ueda (08.05 WIB) akan dicermati untuk mencari kejelasan terkait waktu penghapusan kebijakan suku bunga negatif. Sinyal hawkish dari Ueda disebut berpotensi memicu penguatan yen.
Australia: Peluang pergerakan awal dari data PMI
Dolar Australia mendapat peluang bergerak pada awal sesi Asia melalui rilis Judo Bank Services PMI (proyeksi 52,0) dan Composite PMI (proyeksi 52,1). Angka yang jauh lebih kuat—terutama bila menembus 55—dapat memberi dukungan lebih solid bagi AUD. Sebaliknya, hasil yang mengecewakan berpotensi membuat AUD tertinggal dibanding mata uang utama lainnya.
Kanada: Menanti Services PMI
Agenda data Kanada relatif terbatas. Satu rilis yang menjadi sorotan adalah S&P Global Services PMI (20.30 WIB). Data sebelumnya berada di zona kontraksi (48,60), mengindikasikan perlambatan sektor jasa. Jika pembacaan terbaru lebih buruk dari perkiraan, dolar Kanada berpotensi tertekan, terutama bila harga minyak—sumber pendapatan utama Kanada—juga melemah.
China: Libur nasional dan dampak likuiditas
Dengan pasar China tutup sepanjang hari, likuiditas pada pasangan terkait yuan diperkirakan berkurang. Meski dampaknya terbatas secara langsung, libur panjang dapat menambah ketidakpastian dan memicu sentimen risk-off yang secara tidak langsung dapat memengaruhi mata uang komoditas seperti AUD dan CAD.
Gambaran risiko pasar
Secara keseluruhan, hari ini dinilai berpotensi memunculkan pergerakan berisiko tinggi, baik dalam bentuk whipsaw maupun tren kuat, terutama apabila data PMI/ISM global secara kolektif mengarah pada percepatan atau perlambatan ekonomi. Volatilitas tertinggi diperkirakan terjadi mulai sekitar 15.00 WIB hingga penutupan sesi AS, dipicu data Eropa, rilis AS, serta komentar dari Lagarde, Bailey, dan Williams.
Pelaku pasar juga diingatkan untuk tidak mengabaikan dampak pidato bank sentral, karena satu pernyataan dapat membalikkan arah pergerakan yang sebelumnya dipicu data. Pasangan mata uang yang diperkirakan paling sensitif terhadap agenda hari ini antara lain EUR/USD, GBP/USD, dan USD/JPY.

