JAKARTA — Pemerintah menilai masyarakat kelas menengah memegang peran strategis dalam menjaga pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tekanan global yang masih tinggi. Peran tersebut terutama terlihat dari aktivitas ekonomi dan konsumsi domestik yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, kontribusi kelas menengah sangat signifikan terhadap perekonomian nasional, khususnya melalui belanja dan konsumsi rumah tangga. “Kalau dilihat dari share-nya terhadap ekonomi kita, betapa pentingnya peran kelas menengah di Indonesia terutama pada perbelanjaan dan konsumsi rumah tangga,” ujar Susiwijono pada Kamis (16/4).
Menurut dia, konsumsi rumah tangga saat ini menyumbang sekitar 54–55 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Porsi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat ekonomi Indonesia mampu bertahan di tengah dinamika global.
Susiwijono menjelaskan, konflik geopolitik turut memengaruhi sektor energi dan logistik serta berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dunia. Namun, ia menilai struktur ekonomi Indonesia relatif lebih resilien karena tidak terlalu bergantung pada perdagangan luar negeri.
Ia juga menyebut kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah saat ini mencapai sekitar 66,35 persen dari total 185,35 juta penduduk Indonesia. Kelompok ini disebut menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga dan daya beli nasional.
Meski demikian, Susiwijono mengingatkan adanya pergeseran proporsi dari kelas menengah ke kelompok menuju kelas menengah. Kondisi tersebut, menurutnya, mengindikasikan adanya tekanan terhadap daya beli, terutama di wilayah perkotaan yang menjadi domisili mayoritas kelas menengah.
Selain itu, karakteristik kelas menengah juga mengalami perubahan. Susiwijono menyoroti pergeseran lapangan pekerjaan yang semakin didominasi sektor jasa, disertai kecenderungan menurunnya proporsi pekerja formal.
Dari sisi belanja, pola konsumsi kelompok ini disebut lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan nonmakanan seperti perumahan, transportasi, dan gaya hidup. Ia menegaskan kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah dalam perumusan kebijakan ke depan.
Susiwijono turut menyinggung fenomena “Chilean Paradox”, yakni kondisi ketika pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu menjamin pemerataan kesejahteraan. Menurutnya, hal itu menjadi pengingat agar kebijakan ekonomi tetap berpihak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia menyampaikan kebijakan tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang menyasar seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelas menengah. Untuk kelompok rentan, pemerintah menyiapkan bantuan sosial. Sementara bagi kelas menengah, pemerintah memberikan stimulus seperti insentif perpajakan, dukungan sektor perumahan melalui FLPP, insentif otomotif, serta subsidi energi untuk menjaga daya beli dan aktivitas ekonomi.