Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan memberdayakan program korporasi petani kopi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Program ini dijalankan melalui korporasi Java Preanger Lestari Mandiri (JPLM), yang dibentuk dari penggabungan lima kelompok tani/koperasi pada 2020.
Direktur Jenderal Perkebunan Andi Nur Alam Syah mengatakan kopi merupakan komoditas perkebunan yang diminati pasar global, sejalan dengan peluang bisnis yang dinilai menguntungkan dan tren gaya hidup. Menurutnya, keberadaan korporasi petani dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarga petani, termasuk di tengah dampak pandemi Covid-19.
Fasilitasi untuk petani dan penguatan usaha
Melalui korporasi JPLM, petani memperoleh berbagai fasilitasi untuk mendorong pengembangan usaha. Fasilitasi tersebut antara lain peremajaan tanaman kopi, pelatihan milenial, pelatihan ekspor, serta dukungan alat pascapanen dan sarana prasarana lainnya.
- Peremajaan tanaman kopi
- Pelatihan untuk petani milenial
- Pelatihan ekspor
- Alat pascapanen dan sarana prasarana pendukung
Andi juga menyebut korporasi ini membantu kelompok tani dalam kegiatan ekspor dan memperoleh fasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar permodalan produksi dapat berkembang lebih cepat. Ia menilai, melalui korporasi, petani memiliki ruang lebih leluasa untuk menjual produk dengan harga yang lebih baik, sekaligus membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.
Lahan, produksi, dan kepastian pasar
Dalam konteks pembangunan pertanian, pemerintah menghadapi keterbatasan ketersediaan lahan, terutama lahan dengan kondisi ideal untuk pertanian. Karena itu, pengembangan dan perluasan lahan untuk komoditas pertanian secara spesifik disebut menjadi salah satu tujuan utama pemerintah dalam mendukung program swasembada pangan nasional.
Di JPLM, luas kebun keseluruhan yang dikelola mencapai 21,00 hektar. Produksi yang diolah pada tahun sebelumnya tercatat sebanyak 1.015 ton greenbean.
Andi menambahkan, keberadaan korporasi memberi kepastian akses pasar sehingga petani tidak lagi bimbang dalam memasarkan hasilnya, baik untuk harga ceri, gabah, maupun greenbean. Ia menyebut harga pasar menjadi lebih terbangun dan terkendali sesuai standar atau berada di atas harga pasar yang aman. Selain itu, perkembangan produksi dinilai turut membuka lapangan kerja dan memberdayakan masyarakat setempat.
Pembinaan dari budidaya hingga ekspor
Pembinaan petani dilakukan mulai dari budidaya hingga panen. Petani mendapatkan dukungan berupa benih tanaman dan bantuan lain, termasuk untuk komoditas kopi arabika. Andi menyatakan kopi arabika tersebut telah berhasil dikirim ke sejumlah negara, seperti Dubai, Inggris, Eropa, dan kawasan Timur Tengah.
Ia menjelaskan, proses kopi yang dikerjakan saat ini mengarah pada produk specialty. Ke depan, proses kopi reguler juga disebut memungkinkan seiring dukungan alat dan sarana prasarana yang mempercepat produksi.
Komitmen anggota dan aspek lingkungan
Andi menegaskan pentingnya komitmen kuat dari seluruh anggota kelompok tani dan pihak terkait agar korporasi dapat berkembang lebih baik. Ia berharap pengembangan kopi melalui korporasi dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan keluarga petani. Selain itu, ia menilai tanaman kopi dapat membantu menjaga dan mempertahankan ekosistem lingkungan, termasuk dalam pengendalian erosi tanah dan banjir.
Petani milenial juga disebut menjadi bagian dari korporasi, yang dinilai memudahkan proses penjualan, pengolahan, dan pemasaran. Kelompok tani yang bergabung dalam JPLM menyampaikan rasa syukur atas program tersebut, termasuk bantuan benih, pupuk, mesin pulper huler, serta fasilitas pengeringan yang disebut membuat produksi lebih baik dibanding sebelumnya.

