Konflik di Timur Tengah memasuki fase ketegangan baru dan mulai memunculkan risiko terhadap rantai pasokan global. Meski belum terjadi gangguan besar pada sistem pengiriman internasional, dampaknya mulai terasa secara tidak langsung pada kegiatan ekspor melalui kenaikan biaya transportasi, asuransi, dan bahan bakar. Departemen Impor-Ekspor di bawah Kementerian Perindustrian dan Perdagangan menyebut kenaikan biaya ini ikut meningkatkan biaya produksi serta berdampak negatif pada jadwal pengiriman.
Salah satu titik rawan bagi perdagangan internasional adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan menjadi lintasan utama pengangkutan minyak mentah dunia. Ketika situasi keamanan di kawasan tersebut tidak stabil, sejumlah perusahaan pelayaran internasional mulai meminta perubahan rute atau menangguhkan sebagian rute yang melewati Hormuz. Kondisi ini memperpanjang waktu transit sekitar 7 hingga 14 hari dan memicu gangguan pada rantai pasokan berbagai industri, terutama produk yang memerlukan kontainer berpendingin.
Di sisi lain, perusahaan pelayaran besar seperti Maersk, Hapag-Lloyd, dan CMA CGM menerapkan biaya tambahan risiko perang untuk rute yang melintasi wilayah terdampak. Tarif pengiriman pada rute Asia–Dubai dilaporkan hampir berlipat ganda, dari tingkat normal menjadi sekitar US$1.500 hingga US$4.000 per kontainer. Kenaikan biaya tersebut menambah beban pelaku usaha, mendorong kenaikan harga produk, dan berpotensi menurunkan daya saing di pasar ekspor.
Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Eksportir Makanan Laut Vietnam (Vasep), Le Hang, menyatakan Timur Tengah merupakan salah satu pasar ekspor utama industri makanan laut Vietnam. Menurutnya, konflik berkepanjangan, waktu pengiriman yang lebih lama, peningkatan waktu tunggu kapal, kemacetan pelabuhan, serta kekurangan terminal kontainer berpendingin menjadi faktor yang memperberat situasi. Biaya penyimpanan dan demurrage kontainer meningkat, sementara risiko penurunan kualitas produk ikut naik apabila masa simpan melampaui batas aman.
Le Hang menilai dampak pada harga makanan laut terjadi pada dua tingkat. Di Timur Tengah, kenaikan biaya pengiriman dan asuransi secara langsung mendorong naiknya harga impor. Jika krisis berlanjut, biaya tinggi berpotensi menjadi patokan baru, sehingga perusahaan perlu merestrukturisasi pasar tujuan dan menegosiasikan ulang kontrak.
Risiko logistik juga dinilai merembet ke pasar lain. Ekspor ke Amerika Serikat dan Uni Eropa saat ini mencapai sekitar 39,5% dari total nilai ekspor Vietnam, dengan sebagian besar pengiriman melewati koridor Suez–Laut Merah. Jika rute ini terganggu, dampaknya dapat terasa pada perekonomian. Ekonom Profesor Madya Dr. Nguyen Huu Huan menyebut logistik sebagai risiko terbesar, mengingat biaya logistik yang sudah berada di kisaran 10–20% dari total biaya dapat naik 15–25% apabila biaya tambahan perang dan biaya perubahan rute meningkat. Ia memperingatkan bahwa dalam skenario ketegangan berkepanjangan selama enam bulan, nilai ekspor dapat turun 2–4% dibanding skenario dasar akibat hilangnya keunggulan harga dan keterlambatan pengiriman.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Buah dan Sayur Vietnam, Dang Phuc Nguyen, menambahkan bahwa ketegangan di Laut Merah tidak hanya memengaruhi pengiriman ke Timur Tengah, tetapi juga berdampak pada pasar Eropa karena kapal harus memutar mengelilingi Tanjung Harapan sehingga perjalanan bertambah beberapa hari. Untuk buah segar, penundaan beberapa hari dapat menurunkan kualitas dan harga jual. Operasi kontainer berpendingin yang lebih lama juga meningkatkan biaya serta risiko pembusukan. Meski nilai ekspor buah dan sayur ke Timur Tengah dan Eropa kurang dari 10% dari total industri, ia menilai pasar tersebut tetap penting dalam strategi diversifikasi sehingga perlu dilindungi.
Sejumlah pihak mendorong respons proaktif agar dampak ketegangan geopolitik dapat ditekan. Perusahaan Vietnam, terutama di sektor yang bergantung pada rantai pasok internasional seperti makanan laut, tekstil, serta buah dan sayuran, dinilai perlu memperkuat strategi mitigasi. Para ahli menekankan pentingnya memantau perkembangan politik dan keamanan di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, Laut Merah, dan Terusan Suez. Asosiasi serta lembaga terkait impor-ekspor juga didorong berkoordinasi dengan mitra internasional untuk memperbarui informasi dan menyesuaikan rencana pengiriman.
Le Hang menyarankan diversifikasi rute pengiriman agar perusahaan tidak bergantung pada satu jalur. Pengalihan rute melalui Tanjung Harapan dapat menghindari zona konflik, tetapi konsekuensinya adalah waktu pengiriman lebih panjang, biaya meningkat, dan risiko terhadap kualitas produk bertambah, terutama untuk barang yang membutuhkan pengawetan khusus.
Strategi lain yang dinilai penting adalah meningkatkan persediaan di fasilitas penyimpanan dingin regional untuk menjaga kualitas produk ketika terjadi keterlambatan pengiriman. Selain itu, pengamanan kontrak pengiriman jangka panjang—alih-alih hanya mengandalkan kontrak jangka pendek—disebut dapat membantu mengurangi dampak perubahan mendadak pada biaya dan premi asuransi.
Dari sisi asuransi, pelaku usaha diminta memastikan adanya klausul yang jelas terkait tanggung jawab serta mekanisme pembagian biaya dalam kontrak komersial. Langkah ini dipandang dapat meminimalkan perselisihan dan mencegah kerugian berlebihan ketika premi asuransi naik atau biaya tambahan risiko perang diberlakukan.
Ketua Asosiasi Impor-Ekspor Kota Ho Chi Minh, Pham Van Xo, menekankan bahwa logistik perlu diperlakukan sebagai elemen strategis, bukan sekadar bagian operasional rantai pasokan. Menurutnya, perusahaan perlu menyesuaikan rencana produksi dengan kerangka transportasi, tidak hanya berfokus pada pesanan, serta menyiapkan rencana darurat agar tidak kehilangan keunggulan kompetitif saat biaya meningkat.
Para ahli menilai kombinasi pemantauan situasi, diversifikasi rute, serta penguatan perlindungan kontrak dapat membantu perusahaan menjaga kemampuan ekspor sekaligus mempertahankan pangsa pasar di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

