Pasar otomotif Tiongkok pada 2025 diwarnai dominasi produsen besar, menguatnya kendaraan energi baru (NEV), serta mulai munculnya keuntungan di kalangan produsen rintisan. Di saat sejumlah perusahaan swasta mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba, beberapa produsen milik negara menghadapi tekanan berat dalam persaingan serta tantangan transformasi digital dan agenda ramah lingkungan.
BYD mempertahankan posisinya sebagai produsen mobil nomor satu di Tiongkok dengan hasil yang disebut memecahkan rekor. Pada 2025, pendapatan BYD mencapai 803,96 miliar yuan dengan pengiriman 4,602 juta kendaraan. Perusahaan membukukan laba bersih 32,62 miliar yuan, yang dikaitkan dengan efektivitas rantai pasokan mandiri yang dimilikinya.
Di belakang BYD, Geely Automobile melaporkan penjualan 3,025 juta kendaraan dan disebut melampaui target tahunan. Pendapatan Geely tercatat 345,23 miliar yuan, dengan laba bersih 16,85 miliar yuan. Kinerja ini dikaitkan dengan strategi perusahaan yang mengembangkan kendaraan bermesin pembakaran internal dan NEV secara bersamaan.
Chery Automobile menjadi sorotan lewat performa ekspor. Dari total 2,631 juta kendaraan yang terjual, hampir 50% berasal dari pasar luar negeri. Pendapatan perusahaan melampaui 300 miliar yuan untuk pertama kalinya, sementara laba bersih mencapai 19,02 miliar yuan—tumbuh lebih dari 30% dibandingkan tahun sebelumnya.
Great Wall Motors juga membukukan hasil positif dengan pendapatan lebih dari 222,8 miliar yuan dan laba bersih sekitar 10 miliar yuan. Secara umum, produsen mobil swasta dinilai menunjukkan kemampuan adaptasi yang lebih baik terhadap fluktuasi pasar.
Sejumlah produsen lain juga mencatat kinerja yang dirangkum dalam data 2025, termasuk Li Auto dengan pendapatan 112,31 miliar yuan dan laba bersih 1,14 miliar yuan. Xiaomi Auto tercatat memiliki pendapatan lebih dari 100 miliar yuan dan laba bersih 0,90 miliar yuan, yang menandai pertama kalinya perusahaan melaporkan keuntungan.
Berbeda dengan perusahaan swasta, beberapa produsen milik negara yang telah lama berdiri menghadapi tekanan besar. BAIC Motor diproyeksikan mencatat penurunan laba bersih untuk tahun keempat berturut-turut, dengan laba bersih hanya sekitar 120 juta yuan. GAC Group melaporkan kerugian bersih 8,78 miliar yuan meski pendapatan mencapai 96,54 miliar yuan, yang mencerminkan ketatnya persaingan.
SAIC Motor disebut menunjukkan tanda pemulihan setelah penyesuaian strategi. Meski laporan lengkap belum dirilis, proyeksi laba grup berada di kisaran 9 miliar hingga 11 miliar yuan, dinilai lebih stabil dibandingkan periode sebelumnya.
Perkembangan lain yang menonjol pada 2025 adalah mulai berakhirnya fase “menghamburkan uang” di segmen kendaraan listrik, ditandai dengan membaiknya profitabilitas produsen rintisan. Xiaomi Auto mencatat laba positif 900 juta yuan pada tahun pertamanya dengan pendapatan lebih dari 100 miliar yuan. Leapmotor juga membukukan laba bersih 540 juta yuan setelah bertahun-tahun merugi, yang dikaitkan dengan optimalisasi biaya produksi.
Di sisi lain, NIO dan XPeng masih mencatat kerugian sepanjang 2025, masing-masing sebesar 14,94 miliar yuan dan 1,14 miliar yuan. Namun, keduanya disebut mencatat laba bersih pada kuartal keempat 2025, yang dipandang sebagai sinyal pergeseran fokus perusahaan rintisan kendaraan listrik dari mengejar skala semata menuju pertumbuhan yang lebih berkualitas dan profitabilitas berkelanjutan.